Rabu, 13 Juni 2012

Pendidikan Jasmani dan Keterampilan menurut Hadits Nabi Muhammad SAW

Materi Pendidikan Jasmani dan Keterampilan menurut Hadits Nabi Muhammad SAW Oleh: Charles A. Pendahuluan Rendahnya tingkat kebugaran peserta didik di sekolah – termasuk di dalamnya madrasah dan Pesantren - pada semua tingkat satuan pendidikan merupakan indikasi rendahnya mutu hasil pembelajaran jasmani dan rendahnya mutu bibit olahragawan usia dini di sekolah-sekolah. Hal ini didukung oleh hasil survey yang dilakukan oleh Pusat kesegaran jasmani Departemen Pendidikan Nasional tahun 2002 (sekarang diganti dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan) menyimpulkan bahwa hasil pembelajaran penjas di sekolah secara umum hanya mampu memberikan efek kebugaran jasmani terhadap kurang lebih 15 persen dari keseluruhan populasi peserta didik Masalah kebugaran peserta didik juga dialami oleh santri atau peserta didik di lembaga pendidikan Islam, ini terlihat di beberapa lembaga pendidikan Islam yang cenderung mengabaikan pendidikan jasmani, kegiatan banyak difokuskan pada pembelajaran di kelas dan kegiatan asrama yang lebih menekankan pada aspek pembinaan akal dan rohani, padahal menurut penulis sering aspek kebugaran menghambat masalah pembinaan yang terjadi di madrasah dan Pesantren. Bahkan ada kesan di lapangan sebagian besar pemilik lembaga dan sebagian kecil pendidik yang mengabaikan masalah pendidikan jasmani ini dengan alasan mengutamakan pendidikan akal dan rohani. Pandangan seperti ini mungkin ada benarnya, namun meninggalkan kegiatan pendidikan jasmani secara tidak proposional dan tidak seimbang, maka akan menimbulkan kesan pendidikan jasmani tidak berada dalam sistem yang pendidikan Islam. Bila di lihat dari konsep Islam -berdasar Al-Qur’an dan Hadits- pendidikan jasmani sangat dianjurkan dalam Islam dan merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan lainnya. Contohnya dalam Al Qur’an banyak ayat-ayat yang memperhatikan dan menekankan pentingnya membentuk jasmani yang kuat, sebagaimana firman Allah SWT: “Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat fisiknya lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashash: 26). Senada dengan ayat di atas, terdapat pula ayat di mana Allah Swt. menjelaskan tentang Thalut penguasa Bani Israil, yaitu firman Allah Swt: “…(Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (QS. Al Baqarah: 247). Pendidikan jasmani dalam Islam bukan hanya dalam pengertian fisik yang kuat, tetapi juga dalam arti menjaga kesehatan dan kebersihan fisik/tubuh. Dalam Islam sendiri, menjaga kebersihan itu dimulai dari tubuh sendiri, pakaian, tempat dan lingkungan. Nabi Muhammad SAW setelah menerima 5 ayat pertama surat al-‘Alaq, maka beliau menerima wahyu yang berisi perintah untuk membersihkan pakaian, jasmani dan rohaninya:                       “1. Hai orang yang berkemul (berselimut),2. Bangunlah, lalu berilah peringatan!3. Dan Tuhanmu agungkanlah!4. Dan pakaianmu bersihkanlah,5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” Di sisi lain untuk meraih kemenangan di dunia global ini sangat penting sekali menguasai sains dan teknologi, serta keterampilan. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa dalam Islam –khususnya dalam hadits Nabi- banyak isyarat tentang pendidikan keterampilan yang mendorong umat islam memiliki keterampilan hidup. Di samping itu dalam penguasaan sains, teknologi, dan keterampilan harus berlandaskan iman dan keyakinan yang benar, sehingga keterampilan itu tidak dipergunakan pada hal-hal yang dimurkai Allah. Kasus yang sering terjadi sekarang, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, keterampilan digunakan untuk merusak bumi, seperti pengeboman terhadap suatu negara, merusak hutan, dan lain sebagainya. Jadi, terampil saja belum cukup bila tidak dilandasi dengan agama. Keterampilan yang tidak agamis akan menjadi bumerang bagi pemiliknya bahkan alam sekitarnya. Makalah ini akan membahas bagaimana konsep pendidikan jasmani dan pendidikan ketarampilan di sekolah? Dan sebagai perbandingan, bagaimana konsep pendidikan jasmani dan ketarampilan dari perspektif hadits nabi? Dalam perspektif hadits termasuk hadits-hadits qauli maupun fi’li. Dalam perspektif ini juga termasuk dari sejarah perjuangan nabi dalam menyebarkan Islam. Hadits merupakan dasar dan landasan normatif operasional pendidikan Islam . B. Konsep Dasar Pendidikan Jasmani dan Keterampilan di sekolah Pendidikan jasmani merupakan suatu proses seseorang sebagai individu maupun anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan, dan pembentukan watak. Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Dalam kontek pendidikan Nasional Pendidikan jasmani (disingkat Penjas) adalah mata pelajaran untuk melatih kemampuan psikomotorik yang mulai diajarkan secara formal di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Tujuan Pendidikan Jasmani di sekolah, pada prinsipnya di arahkan untuk: 1)Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih; 2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik; 3) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar; 4) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan; 5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis ; 6) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan; 7) Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif. Pendidikan Jasmani tidak sama dengan pendidikan Olahraga, karena Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Paling tidak fokusnya pada keterampilan anak. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial. Karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga lebih penting dari pada hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid lainnya, harus menjadi pertimbangan utama Sedangkan pendidikan keterampilan adalah dua kata yang digabung menjadi satu yang terdiri dari kata pendidikan dan keterampilan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar perserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Sedangkan keterampilan berasal dari akar kata terampil, yang berarti cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu, dan cekatan. Selain itu, keterampilan juga berarti kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Jadi, pendidikan keterampilan dapat diartikan dengan upaya seseorang untuk mengembangkan potensi dirinya, baik jasmani maupun rohani untuk cakap melaksanakan tugas, dan profesional dalam bidangnya, berfikir sistematis, punya kreasi yang tinggi untuk kehidupan yang lebih sempurna. Oleh sebab itu Pendidikan keterampilan pada prinsipnya adalah pendidikan yang melibatkan semua potensi yang ada pada jasmani dan rohani. Dari segi jasad, karakteristik manusia memiliki dorongan untuk berkembang, mempertahankan diri dan berketurunan. Dari segi rohani, manusia memiliki keutamaan dari makhluk lainnya, karena Allah menyempurnakan kejadian manusia dengan meniupkan roh kepada jasadnya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Hijr/15:29, artinya sebagai berikut; Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiaanya dan telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Semakin tinggi kecerdasan suatu bangsa, semakin banyak pula jenis keterampilan yang ditekuni orang. Keterampilan yang disaksikan pada hari ini lebih berkembang dari zaman-zaman sebelumnya, seperti keterampilan mendesain bangunan, keterampilan memahat, mengembangkan agro pertanian, agro bisnis, kelautan, dan lain sebagainya. Keterampilan yang banyak itu dipengaruhi oleh bakat, pembawaan, lingkungan serta iklim tempat seseorang berdomisili. Allah berfirman dalam QS. Bani Israil/17: 84 yang artinya: ”Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing” dan firman Allah dalam QS. Al-Lail/92: 4 yang artinya: ”Susungguhnya usahamu bermacam-macam”. Agaknya, Allah SWT ingin menekankan bahwa segala perbuatan manusia berbeda-beda sifat dan bentuknya. Di antaranya ada yang baik dan ada yang buruk, serta ada yang bermanfaat dan ada membahayakan. Dari segi tujuan, keterampilan ada dua macam. Pertama: keterampilan yang bertujuan untuk kemashlahatan dan kepentingan orang banyak. Kedua: keterampilan yang bertujuan untuk kemashlahatan diri sendiri dalam rangka melangsungkan kehidupan individu dan dipergunakan untuk menafkahi dirinya sendiri. Keterampilan untuk memperoleh kemashlahatan ini telah digambarkan dalam al-Quran seperti yang dimiliki oleh kaum ’Ad, mereka mampu membangun rumah tempat tinggal mereka dari sumber daya alamnya yang terdiri dari bukit batu, lalu mereka pahat sampai menjadi tempat berlindung yang nyaman bagi mereka dan keluarganya. Kaum ’Ad sudah mempunyai keahlian yang tinggi dalam pahat memahat batu, hidup mereka makmur dengan pertanian dan arsitek. C. Pendidikan Jasmani Menurut Hadits a. Term Fisik Dalam Hadits Ada beberapa hadits yang berkenaan dengan dengan istilah-istilah jasmani ( الجسد ): الا وان في الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله الا وهي القلوب “Ingatlah sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal darah, jika ia baik maka baik pula tubuh seluruhnya, jika ia buruk maka buruk pula tubuh seluruhnya segumpal darah itu adalah hati (HR. Bukhari) مثل المؤمنين في توادهم وتعاطفهم وتراحمهم مثل الجسد اذااشتكى منه عضو تداعى سائر الجسد بالسهر والحمى “Perumpamaan orang mukmin dengan mukmin lainnya dalam hidup bersama kasih mengasihi adalah seperti badan yang satu, apa bila retak anggota yang satu maka yang lain ikut merasakannya. (HR. Bukhari) Kata al-jasad dalam hadits ini sama dengan hadits sebelumnya, yaitu tubuh manusia. Dalam Islam fisik tidak berarti tanpa berkomplemen dengan ruh. Kesatuan antara jasmani dan ruh manusia inilah yang disebut manusia yang hidup di dunia, selanjutnya perlu pemeriksaan fisiknya dalam rangka pembinaan rohaninya. Hubungan antara jasmani dan rohani saling memberikan pengaruh timbal balik . b. Proses Penciptaan Manusia Jika dilihat dari proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an pada dasarnya sama dengan yang dijelaskan oleh Hadits. Salah datu hadits yang menjelaskan tentang penciptaan manusia adalah: Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, A-Timidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Abdurrazaq dan Abu Nu’aim dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya satu persatu kalian dihimpun penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian selama itu juga (40 hari) ia berada di sana dalam bentuk segumpal darah, kemudian selama itu pula ia berada di dalamnya dalam bentuk segumpal daging, barulah Allah mengutus Malaikat yang bersigap meniupkan ruh ke dalamnya sambil dia diperintahkan untuk menuliskan (menetapkan) empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan statusnya kelak; sengsara atau bahagia” Seperti diketahui bahwa manusia diciptakan secara fisik dari sari pati tanah yaitu air mani. Secara fisik pula air mani diciptakan dari sari pati makanan baik nabatiyah maupun hewaniyah . dengan demikian kebutuhan fisik pertama bagi manusia adalah udara untuk bernafas, menghirup oksigen, dan mengeluarkan CO2 untuk mempertahankan hidup. Kemudian kebutuhan terhadap air karena air secara biologi sumber kehidupan. Dan barulah kebutuhan terhadap makanan yang merupakan kebutuhan primer, sebab tanpa semua itu manusia tidak akan bisa bertahan eksistensi hidupnya. Setelah itu manusia membutuhkan pakaian sebagai bahan pelindung kulit dan tubuhnya dari gangguan luar yang mengakibatkan bahaya bagi tubuhnya. Kemudian manusia perlu tempat tinggal,Kemudian manusia perlu tempat tinggal, baik rumah ataupun lingkungan sekitarnya. c. Pentingnya Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani dalam Islam tidak kurang pentingnya dari pendidikan lain, karena dalam Islam manusia diciptakan dari tanah dan ruh. Kedua aspek ini merupakan prinsip perumusan tujuan pendikan Islam, Khalid bin Hamid al-Hazimiy membagi arah atau tujuan pendidikan Islam kepada pembinaan ilmu, pembinaan akidah, pendidikan ibadah, pendidikan akhlak, pendidikan keterampilan dan pembinaan jasmani. Bahkan dalam konsep yang lebih luas Muhammad Said Mursi membag bidang pendidikan Islam menjadi bidang pendidikan politik, pendidikan sosial, pendidikan ekonomi, pendidikan teknologi, pendidikan seksual, pendidikan psikologi, pendidikan jasmani, pendidikan rohani keimanan, pendidikan akhlak, dan pembekalan ilmu pengetahuan. Pendidikan jasmani dalam Islam penting karena jasmani adalah potensi manusia yang harus diperhatikan dengan cara memberikan hak-hak dan kebutuhannya dan dikembangkan sejalan dengan potensi lainnya. Dalam Al-Qur’an disebut kata Jism dalam surat al-baqarah ayat 247 atau surat al-Munafiqun ayat 4 yang menunjukkan bahwa dalam Islam potensi jasmani perlu dikembangkan.   •                    " Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui.      Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. (al-Munafiqun: 4) Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Ibnu Umar bin al-‘Ash ingin berpuasa stiap hari agar mendapat kebaikan untuk membersihkan jiwa dan ketaqwaanya, tetapi dia mengabaikan kebutuhan fisiknya, Rasulullah SAW bersabda:” Cukup 3 hari berpuasa dalam sebulan, lalu ia berkata: aku ingin lebih dari itu, rasul menjawab: “ sesungguhnya … tubuhmu memiliki hak atas dirimu” Pendidikan jasmani dalam dalam perspektif pendidikan Islam proses menjaga dan mengembangkan potensi fisik sehingga mampu melakukan hakikat penciptaannya untuk beribadah , karena ibadah seperti shalat, puasa, haji dan jihad fi sabilillah tanpa fisik yang sehat. dan untuk menolak segala bahaya yang akan mengancam maqashid syari’ah; agama, harta, jiwa, akal dan kehormatan Maka oleh sebab itu tujuan pendidikan jasmani diarahkan pada : Pertama, pelaksanaan kewajiban syari’ah; pembinaan jasmani seperti dijelaskan diarahkan untuk seseorang agar bisa melaksanakan shalat, puasa, haji dan jihad dan menjaga jiwa agama, harta dan kehormatan. Bila seseorang tidak memiliki kesehatan jasmani maka tidak mungkin mampu melaksanak ibadah dan mencapai tujuan syara’ dengan sempurna. Oleh sebab itu menjaga kesehatan fisik adalah untuk melaksanakan ibadah. Dalam hal ini Rasulullah pernah mengajarkan kepada umat Islam untuk mendo’akan orang sakit ketika mengunjunginya agar cepat sembuh, sehingga dia bisa menyembah Allah; Rasulullah bersabda: Apabila seseorang datang menjenguk orang sakit, bacalah do’a: ya Allah sembuhkanlah hambmu, agar ia bisa melawan musuhmu dan mampu berjalan untuk melaksanakan shalat” . Dalam Al-Qur.an juga dijelaskan : “Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat]." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. Maksuda ayat ini adalah bahwa perhiasan-perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman, sedang di akhirat nanti adalah semata-mata untuk orang-orang yang beriman saja. Jadi pendidikan jasmani adalah alat untuk mencapai tujuan ibadah. Oleh sebab itu pendidikan jasmani bisa saja jadi wajib, bisa sunat, makruh, mubah atau bahkan haram sesuai tujuan pembinaan jasmani. Kedua, Menolak penyakit; tubuh yang lemah tidak mampu melawan bakteri penyakit, karena tidak memiliki kekebalan melawan bakteri yang menjadi sumber penyakit. Ibnu Qayyim dalam bukunya al-Thib al-Nabawiy, sebagaimana dikutip oleh Khalid bin Hamid al-Hazimiy, bahwa penyakit akan menghinggap fisik manusia karena buruknya mizaj, dan rusaknya salah satu anggota badan yang disebakan lemahnya kekuatan. Penyebab lemahnya kekuatan adalah hasil dari tidak adanya perhatian pada gizi atau kurangnya gerakan yang sangat berperan dalam aktivitas. Oleh sebab itu perlu adanya olah raga dan asupan gizi yang memadai agar fisik mampu melawan segala macam penyakit. Ketiga, supaya bisa banyak aktivitas; bila seseorang memiliki tubuh kuat dia bisa melakukan berbagai aktivitas, baik dengan pengobatan, menjaga keshatan, dan melakukan olah raga . Keempat, untuk memperoleh kesehatan jiwa; fisik yang sehat dengan mencukupkan istirahat maka akan membuat jiwa lebih rileks, Kelima, mendapatkan kebahagian dengan kesehatan; kesehatan dan keselamatan jasmani akan menambah kebahagian seseorang dalam hisupnya. d. Prinsip-Prinsip Pendidikan Jasmani Dalam Islam Prinsip-prinsip materi pendidikan jasmani menurut hadits Nabi Muhammad SAW dalam beberap riwayat dan sejarah Islam: Orang Islam yang Kuat Lebih Baik daripadaOrang Islam yang Lemah Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda; الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim) Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih dicintai oleh Allah SWT dan dorongan-dorongan agar kaum muslimin itu optimis dalam bekerja serta tabah dalam menghadapi segala kemungkinan. Mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik ketimbang mukmin yang lemah. Kuat bisa bermacam-macam; kuat badan, kuat ekonomi, kuat kedudukan, kuat mental dan lain-lain yang dapat diperbandingkan dengan yang lain. Kuat secara sendiri-sendiri atau kuat secara bersama-sama. Menurut sunah Allah, seorang menjadi kuat, ditentukan oleh faktor penunjang. Kuat badan ditunjang oleh kekekaran dan kesempurnaan susunan tubuh. Itu juga ditentukan oleh gizi. Kuat ekonomi, ditunjang oleh harta yang dihasilkan oleh kerja keras penuh perhitungan. Kuat kedudukan ditunjang oleh kelebihan yang dimiliki, ilmu, akhlak dan cara mainnya. Kuat mental, karena iman dan kepercayaan kepada diri sendiri. Dan seterusnya. Jadi sebelum seorang mukmin menjadi “kuat”, dia harus siap dengan faktor penunjang kekuatan itu. Maka dia akan lebih disukai dan lebih baik di sisi Allah. Hadis di atas mengandung tiga dorongan dan dua macam larangan yaitu; Pertama, iman, yakni pusat kebahagiaan dunia dan akhirat manakala diikuti dengan amal saleh, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firmannya: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl:97) Keimanan tiap-tiap orang berbeda, ada yang kuat dan ada yang lemah. Orang yang kuat imannya sangat terdorong untuk mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya, suka amar ma’ruf dan nahi mungkar, gemar berjihad, tidak takut rintangan dalam mengajak kebaikan, sabar dalam melaksanakan hak-hak Allah seperti salat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Namun orang yang lemah imannya lengah dan lalai untuk beramal saleh dan cita-citanya untuk mencapai kebahagiaan akhirat lemah. Orang kuat imannya lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya. Apa yang dikerjakan oleh masing-masingnya mengandung kebaikan, namun orang yang kuat imannya selalu menyuburkan imannya dengan amal saleh sehingga imannya semakin rindang dan akarnya semakin menghujam ke dalam hati sanubarinya. Kedua, Rasulullah SAW. menganjurkan kepada kita untuk tangkas mencari segala sesuatu yang membawa kemanfaatan baik kemanfaatan dunia maupun kemanfaatan akhirat. Seorang mukmin jangan sampai mengosongkan waktu, sehingga waktu itu berjalan tanpa meninggalkan bekas kecuali ketuaan belaka. Namun istilah waktu dengan kegiatan mencari ilmu, harta, menolong anak yatim, membaca Alquran, selawat dan lain sebagainya. Ketiga, dalam menghadapi segala usaha dan rencana hendaklah mohon pertolongan kepada Allah, karena yang memutuskan dan menentukan segala sesuatu hanyalah Allah semata. Keempat, Rasulullah saw. melarang kita lemah dalam mencapai cita-cita, namun hendaknya kita optimis dalam usaha kita. Jiwa harus penuh kepercayaan kepada Allah agar apa yang kita cita-citakan tercapai disertai usaha yang benar-benar, tidak boleh malas-malasan dan berdiam diri tanpa usaha. Nabi saw. telah mengajarkan doa kepada kita antara lain, “Ya Allah, saya mohon perlindungan kepada-Mu dari lemah dan malas.” (H.R. Abu Dawud).Kelima, apabila kita tertimpa suatu hal yang tidak menyenangkan, Rasul saw. melarang kita untuk mengucapkan pengandaian (seandainya). Karena kata ini dapat membuka pintu pekerjaan setan. Dengan kata-kata itu seolah-olah kita dapat menghindarkan diri dari takdir Allah, padahal takdir Allah mustahil tidak terlaksana, yang benar, untuk menanggapi peristiwa yang telah lampau kita katakan Allah telah menakdirkannya dan apa yang dikehendaki oleh Allah niscaya diperbuat-Nya. Sedangkan untuk menghadapi sesuatu yang akan datang kita persiapkan sepenuhnya dan hendaklah kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah kita alami pada waktu yang lampau, jangan sampai kita terperosok dua kali dalam satu lubang. Oleh karenanya hendaklah jangan sampai kita melakukan sebab-sebab yang mengakibatkan kegagalan. Secara keseluruhan, hadis di atas menganjurkan agar orang beriman tidak berhenti berjuang, amar ma’ruf, nahi mungkar dan bersabar, apabila suatu saat kesandung aral. Tidak dianggap benar, orang mukmin yang malas, lebih suka “enak saja”, menunda-nunda urusan dan memulangkan semua kegagalan atau keberhasilan kepada pengandaian. e. Cara Pendidikan Fisik dalam Hadits 1. Kebersihan Pangkal Kesehatan Memelihara kesehatan memerlukan pengetahuan tentang hakikat hidup sehat dan menanamkan kebiasaan yang sehat serta membentuk dasar-dasar psikologis dan semangat untuk hidup sehat. Pendidikan dituntut untuk menumbuhkan manusia atas prinsip kebersihan jasmani dan bekerja dalam lingkungan yang bersih dimana ia hidup Rasul mengajarkan kebersihan pangkal kesehatan secara garis besar Islam membagi kebersihan menjadi dua macam: kebersihan badan dan kebersihan lingkungan. Dalam masalah kebersihan badan, melalui wudhu’ dan mandi rasulullah mengajarkan umat Islam agar menjaga kebersihan dirinya dan lingkungan. Di dalam wudhu’ islam telah menyuruh menjaga kebersihan badan, hidung, telinga, kaki dan begitu juga ketika istinja’ Islam menyuruh membersihkan alat kelamin. Sementara untuk menjaga kebersihan lingkungan hadits nabi menyuruh membersihkan rumah dan perkarangan rumah, men meyingkirkan kotoran dan hambatan dari jalan, kebersihan sumber mata air, larangan buang air ditempat umum, larangan meludah di atas tanah. Nabi bersabda: “Kesucian adalah separuh keimanan…” dalam hadits lain “Artinya: “Ada 5 dari kesucian; yaitu berkhitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.”. 2. Kebiasaan Makan a. Jenis Makanan Dalam Islam makanan secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu makanan yang halal dan makanan yang haram. Makanan yang halal karena zatnya seperti tahu tempe, kacang, sayur mayur, buah-buahan dan lain-lain. Kemudian makanan yang haram ada karena zatnya, seperti daging babi, daging binatang buas yang bertaring, dan minum-minuman keras. Contoh hadits, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, tuturnya: “Rasulullah melarang memakan setiap hewan yang memiliki taring predator dari jenis binatang buas, juga setiap hewan yang memiliki cakar dari jenis burung”. ada juga karena cara memperolehnya, seperti harta riba, harta curian, dan lain-lain. Seperti firman Allah: “Allahmenghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” b. Kapasitas Makanan Hadits nabi mendorong umat islam agar makan secukupnya, tidak kurang dan tidak pula berlebihan, Hadits Rasul: tidak ada perlindungan yang lebih kuat bagi hamba-hambaku kecuali menyedikitkan makanan” (HR. Al-Dailami dari Abdullah Ibn Abbas ra). Hadits lain: “ Apabila seseorang menyedikitkan maka perutnya dipenuhi cahaya” Dan hadits yang sangat populer bagi kalangan ilmuwan adalah: “ Tidak ada satu wadahpun yang diisi oleh bani Adam lebih buruk dari pada perutnya, cukuplah baginya beberap suap untuk memperkokoh tulang belakangnya agar tetap tegak, apabila tidak dapat dihindari, baiklah sepertiga makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya. (HR. Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban dalam shahihnya yang bersumber dari Miqdam Bin Ma’di Kasib) Jelaslah bahwa Islam menganjurkan pada umatnya supaya mengatur makan dengan hati-hati, jangan sampai terlalu kenyang karena hal itu seperti hewan dan sangat banyak mudharatnya. c. Adab Makan Al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, menjelaskan bahwa perasaan si anak yang pertama kali adalah keinginan pada makanan. Untuk itu ia harus dididik tentang cara makan yang baik, ketika makan harus dimulai dengan menyebut nama Allah, menggunakan tangan kanan, dan makan makanan yang lebih dekat dengan dirinya. Si anak juga dididik dengan mencegah makan dengan tergesa-gesa, mengunyah makanan yang baik, jangan mengambil makanan dengan terburu-buru, jangan sampai tumpah, dan jangan makan secara berlebihan. Menyebut nama Allah sebelum makan, didasarkan pada hadits nabi: “Apabila seseorang di antara kalianmakan makanan hendaknya dia menyebut asma Allah SWT, apabila ia lupa menyebut asma Allah SWY di awalnya, hendaklah ia mengucapkan “bismillahi ‘ala awwalin wa akhirihi (dengan menyebut nama Allah pada permulaan makan dan akhirnya)” (HR. Tirmidzi). Memakai tangan kanan didsarkan hadits Nabi: “Apabila di antara kalian makan, makanlah dengan tangan kanan, ambillah dengan tangan kanan dan berikan pula dengan tangan kanan.” Dan hadits-hadits lain yang menjelaskan adab makan yang memiliki peran penting dalam Islam untuk memperoleh kebarkahan dan penting dalam ilmu-ilmu kesehatan modern. 3. Olah raga Dalam sirahnya, Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa ada seorang yang berbadan kuat di kota Makkah bernama Rukanah. Manusia banyak yang mendatanginya untuk bergulat. Suatu hari, Rasulullah Saw. berada di dataran yang luas, lalu datang Rukanah menghadap beliau dengan membawa anak-anak kambingnya. Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Wahai Rukanah, bertakwalah kepada Allah, apakah kamu tidak mau menyambut dakwahku?” Rukanah balik bertanya, “Apakah ada bukti untuk kejujuranmu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Iya. Bagaimana menurutmu jika aku bisa mengalahkanmu dalam gulat, apakah kamu mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?” “Iya. Mari kita bergulat,” jawab Rukanah. Rasulullah Saw. kemudian mengambil kuda-kuda untuk mulai bergulat. Beliau bergulat dengan sigap hingga membuat Rukanah terheran-heran dan Rasulullah Saw. dapat mengalahkannya dalam waktu singkat. Rukanah meminta diulang hingga tiga kali. Namun Rasulullah Saw.tetap memenangkan gulat tersebut hingga Rukanah bersedia menyatakan masuk Islam. Hadits di atas dapat dijadikan pelajaran bahwa Ternyata, fisik yang kuat pun bisa menjadi penunjang dakwah seorang dai. Olahraga gulat dan sejenisnya memang bisa juga dijadikan sarana untuk berdakwah. Yang perlu dipertegas adalah tentang bagaimana tujuan awal dari olahraga itu. Hal ini amat urgen mengingat banyak pula olahraga sejenis gulat yang dalam realitanya hanyalah menampilkan kekerasan semata tanpa memiliki unsur-unsur edukatif. Jadi, setiap muslim terutama para orang tua dan pendidik harus jeli untuk memilih dan memilah olahraga mana yang layak untuk ditonton dan diajarkan kepada anak-anak. Pada masa Madinah, Nabi SAW telah memasukkan materi kesehatan dan kekuatan jasmani dalam kurikulum pendidikannya. Secara praktis (amaliah) shalat, wudhu’, mandi, puasa dan haji telah mengandung pendidikan kesehatan dan kekuatan fisik. Selain itu Nabi juga mengajarkan agar makan dan minum secara sederhana, tidak berlebihan. Nabi pun mengajak mempelajari cara berperang. Tentu saja tujuan utamanya untuk persiapan pembelaan diri. Beliau bersabda: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَاتِمٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَفَرٍ مِنْ أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْمُوا بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا ارْمُوا وَأَنَا مَعَ بَنِي فُلَانٍ قَالَ فَأَمْسَكَ أَحَدُ الْفَرِيقَيْنِ بِأَيْدِيهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكُمْ لَا تَرْمُونَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْمِي وَأَنْتَ مَعَهُمْ قَالَ ارْمُوا وَأَنَا مَعَكُمْ كُلِّكُمْ Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaybah ibn Sa’id, telah bercerita Hatim dari yazid bin Abi ‘Ubaid dari salamah, telah menceritakan kepada kami samah ra berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW bersua dengan sekelompok orang dari Bani Aslam yang sedang berlomba memanah, maka beliau SAW bersabda: Memanahlah kalian, hai bani Ismail, sebab nenek moyangmu dahulu (Ibrahim As) adalah seorang pemanah.Panahlah dan saya bersama bani fulan. Maka salah satu kelompok berhenti. Rasul bersabda: kenapa kamu tidak memanah, maka mereka berkata: wahai Rasulullah SAW kami memamah tapi kamu memihak kepada mereka, Rasul pun bersabda: Panahlah dan saya bersama kalian semuanya Berikut juga sebuah anjuran untuk memanfaatkan waktu luang anak dalam bentuk kegiatan yang berguna. Anak sebaiknya dianjurkan pula untuk melakukan perlombaan olah raga lainnya, seperti berlari, menunggang kuda dan berenang. Semua itu dapat menumbuhkan keberanian dan kehandalan dalam jiwa anak-anak sekaligus menghilangkan sifat pengecut. Sebagaimana Sabdanya: حدثنا أحمد بن يونس ثنا ابن أبي ذئب عن نافع بن أبي نافع عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” لا سبق إلا في خف أو [ في ] حافر أو نصل. Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Yunus berbicara kepada kami Ibn Abi dzi’bi dari naafi’ ibn Abi Naafi’ dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: Tidak ada keunggulan kecuali dalam menunggang hewan. Memang sejarah telah mencatat peperangan sangat banyak terjadi di zaman pemerintahan Khalifah Umar ibn Khattab (13/634/23/644), dalam rangka ekspansi Islam. Untuk persiapan ini, maka beliau mengirimkan surat kepada para gubernur yang memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka keterampilan berenang, kepandaian menunggang kuda, dan belajar melempar panah. Dengan keterampilan berenang dimaksudkan agar anak-anak Muslim bisa menjadi marinir-marinir yang handal. Begitu juga dengan kecakapan menunggang kuda agar anak-anak Muslim bisa menjadi pasukan infantri yang tangguh, dan dengan keterampilan melempar panah dimaksudkan agar mereka bisa menguasai peluru kendali. (Abd. Mukti, 2008:91). Semua hal ini ternyata sangat diperlukan untuk menjalankan alat peperangan di samping pendidikan jasmani, sebagaimana dikatakan Sulaiman Rasyid. Menurutnya, perintah menembak dengan panah (al-ramy) dalam Hadis tersebut di atas sangat berguna bagi gerak badan atau pendidikan jasmani. Pengajaran memanah dan menunggang kuda menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memasukkan aspek jasmani sebagai satu aspek yang dibina dalam kurikulum pendidikan. Pengajaran ini mempunyai faedah yang besar dalam menciptakan kesehatan mental dan memberi ruang untuk melampiaskan motivasi-motivasi serta keinginan-keinginannya, menciptakan kesehatan jasmani, keserasian, kekuatan dan pertumbuhan yang sesuai, serta mempersiapkan diri untuk menanggung kehidupan dan berjuang pada jalan Allah SWT. Oleh sebab itu Islam mengajak untuk memiliki kekuatan yang halal dan menganggap orang mukmin yang kuat jasmani, rohani atau akal dan semangatnya, lebih dicintai Allah SWT dan lebih mulia dari pada orang mukmin yang lemah. Juga Islam mengajak untuk membela diri dan kehormatan dan mengajak untuk menghadapi musuh dan menghalanginya jika mereka mulai mengancam. Di antara pendidik Islam yang menyanjung-nyanjung kepentingan pendidikan jasmani bagi kanak-kanak pada waktu kosong mereka adalah Imam al-Ghazali yang berkata dalam bab yang berjudul: “Latihan Jiwa dan Pendidikan Akhlak” dalam jilid ke 3 pada kitabnya “Ihya’ Ulumuddin 4. Perlombaan-perlombaan Perlombaan dalam berbagai permainan merupakan sarana yang sangat efektif dalam membentuk jasmani anak dan mendorong anak untuk memperhatikan masalah olah raga dan pembinaan jasmani. Rasulullah SAW pernah mengadakan perlombaan lari antar anak-anak paman beliau Abbas, serta memberikan hadiah kepada pemenangnya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Harits, bahwa ia berkata, “adalah Rasulullah SAW membariskan Abdullah dan Ubaidullah serta sekian para putra Abbas, kemudian berkata: “Siapa yang lebih dahulu sampai kepada ku akan mendapatkan hadiah”. Lalu mereka berlomba lari agar agar lebih dahulu sampai kepada beliau dan akhirnya ada yang berada di punggung dan dada beliau, beliaupun menciumi mereka. 5. Bermain bersama Anak-anak Ada beberapa Hadits yang memperlihatkan bahwa sekalipun Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat, beliau tetap saja bermain dengan anak-anak. Thabrani meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, bahwa ia berkata:”Aku pernah berkunjung ke Rumah Rasulullah SAW sedangkan Hasan dan Husein bermain di depan beliau atau di pangkuan beliau. Aku katakan kepada beliau, apakah engkau mencintai keduanya? Beliau menjawab:”bagaimana aku tidak mencintai mereka sedangkan mereka merupakan selasihku di dunia yang selalu aku cium” Hadis lain menceritakan dari bara’ bin Azib bahwa ia berkata:”Rasulullah SAW sedang mengerjakan shalat, lalu hasan dan husein atau salah satu dari keduanya datang dan langsung menaiki punggung beliau. Ketika beliau mengangkat kepala dari sujud, maka beliau memegangnya dengan tangan beliau. Beliau berkomentar: “Sebaik-baik tunggangan adalah tunggangan kalian berdua. Disamping itu Islam –berdasarkan hadits nabi- juga menetapkan beberapa prinsip/pilar dalam pembinaan kesehatan anak: membiasakan bergosok gigi, memperhatikan kebersihan buku, mengikuti sunnah nabi ketika makan dan minum, tidur berbaring kesisi kanan, belajar melakukan pengobata alami dan tidur sesudah isya dan bangun segera sebelum subuh. 6. Kesehatan Jasmani dan Rohani Rasul Allah memberikan keistimewaan kepada rasul baik secara fisik. Fisik Rasulullah SAW digambarkan oleh Syafiyyurrahman sebagai manusia yang memiliki perawakan sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus, rambutnya hitam, ikal namun tidak terlalu ikal, kelopak matanya besar, alis matanya panjang, wajahnya bulat bersih dan tanpan, badannya tegap dan jenggotnya tebal, keningnya lebar di tengah-tengah punggung ada stempel kenabian. Selanjutnya dijelaskan bahwa kulitnya sangat halus, tubuhnya harum semerbak. Jika ia menempuh sebuah jalan lalu ada orang yang lewat dekat beliau maka orang tersebut akan mencium wangi Rasulullah Saw. Keadan fisik Rasulullah SAW seperti di jelaskan di atas tentu tidak mungkin muncul begitu saja tanpa adanya upaya dari beliau untuk menjaga Kesehatan tubuh dan mengatur zat makanan yang memadai sesuai ajaran yang beliau sampaikan dalam hadits-hadits beliau. Selanjutnya dengan keadaan fisik yang sehat dan terawat itu melahirkan perilaku dan kebiasaan yang baik sehingga menjadi akhlak yang baik dalam kehidupan Rasulullah SAW. Akhlak Rasul tersebut di gambar kan dalam Al-Qur’an dan hadits, namun disini penulis akan menyebutkan beberapa sifat dan akhlak beliau: ucapan diantaranya adalah beliau fasih, memiliki nilai sastra, penuh hikmah, sedikit namun bermakna. Beliau juga memiliki sifat santun, pemaaf walau mampu membalas, sabar saat sulit semakin kuat ujian semakin kuat kesabaran beliau. Dalam sebuah riwayat Aisyah menceritakan:Tidak ada yang dipilih Rasulullah SAW di antara dua perkara kecuali dia memilih yang lebih mudah selama tidak mengandung dosa. Dia adalah orang yang paling jauh dari dosa. Rasulullah tidak pernah dendam, kecuali jika larangan Allah di langgar. Beliau orang yang paling jauh dari marah dan paling mudah mendapatkan keridhaannya” Beliau memiliki sifat dermawan sesuai dengan kemampuan belliau suka memberi dan tidak takut miskin, pemberani, sangat pemalu, lebih pemalu dari gadis pingitan. Jika membenci sesuatu tanpak dari wajahnya. Beliau adalah orang yang paling adil, paling menjaga kehormatannya, paling jujur ucapannya, paling menjaga amanah, semuanya diakui oleh lawan. Beliau sangat tawadhu’, paling jauh dari sifat sombong, beliau melarang sahabatnya berdiri seperti berhadapan dengan raja dan mengunjungi orang miskin dan bercengkrama dengan mereka dan lain.lain. pembahasan tentang ini tentu tidak mungkin di dalam makalah ini, namun sekedar menjelaskan bagaimana kesehatan jasmani rasul dan keseimbangannya dengan rohani beliau dan akhlak. D. Pendidikan Keterampilan Menurut Hadits Pendidikan keterampilan pada prinsipnya adalah pendidikan yang melibatkan semua potensi yang ada pada jasmani dan rohani. Dari segi jasad, karakteristik manusia memiliki dorongan untuk berkembang, mempertahankan diri dan berketurunan. Dari segi rohani, manusia memiliki keutamaan dari makhluk lainnya, karena Allah menyempurnakan kejadian manusia dengan meniupkan roh kepada jasadnya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Hijr/15:29, artinya sebagai berikut; Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiaanya dan telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Sebagaimana di jelaskan di atas, pendidikan keterampilan adalah upaya seseorang untuk mengembangkan potensi dirinya, baik jasmani maupun rohani untuk cakap melaksanakan tugas, dan profesional dalam bidangnya, berfikir sistematis, punya kreasi yang tinggi untuk kehidupan yang lebih sempurna. Oleh sebab itu Pendidikan keterampilan pada prinsipnya adalah pendidikan yang melibatkan semua potensi yang ada pada jasmani dan rohani, maka Pendidikan keterampilan perspektif Islam adalah pendidikan jasmani dan rohani setiap individu agar cakap dalam mengemban tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi, dan mendekatkan diri kepada-Nya, berfikir sistematis serta cakap dalam mengaktualisasikan diri dengan bermacam-macam keahlian, sebagaimana yang telah dikisahkan oleh al-Quran tentang kehidupan para Rasul dan salafus shaleh. Sejalan dengan pendidikan jasmani, pendidikan keterampilan dalam Islam menempati posisi dan tidak jauh berbeda dengan aspek pendidikan lainnya bahkan sama dalam Islam, karena; pertama, Islam memuji berkerja dengan tangan sendiri, tidak meminta-minta, rasulullah bersabda: Makanan yang dimakan seseorang bukanlah sebuah kebaikan, melainkan makanan yang dimakan atas usahanya sendiri” Bahkan Imam bukhari menempatkan satu bab dalam kitab haditsnya, dengan bab kasab al-rajuli wa ‘amalihi bi yadihi. Ini menunjukkan bahwa para ulama sanagat memperhatikan aspek pendidikan keterampilan. Kedua, dalam Islam tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah bahkan rasulullah menjelaskan dalam haditsnya, tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan di bawah adalah orang yang meminta. Jadi memberi lebih baik dari pada meminta, artinya memberi membutuhkan pekerjaan dan pekerjaan harus dengan keterampilan. Ketiga, islam menganjurkan bahwa umat Islam harus disibukkan dengan pekerjaan yang mubah dan menjauhkan diri dari pekerjaan yang sia-sia dan main-main. Keempat, Islam menngutamakan memberikan nafkah kepada keluarga, dalam sebuah hadits: Rasulullah bersabda: sebaik dinar yang dinafkan seseorang adalah dinar yang dinafkan untuk keluarganya, dinar yang dinafkan terhadap binatang ternak yang digunakan untuk jalan Allah, dan dinar yang dinafkan pada sahabatnya di jalan Allah”. Bahkan imam Muslim menyusun hadits khusu tentang dalam kitab haditsnya “ bab fadhlu al=Nafqah ‘ala al-‘ayaal. Oleh sebab itu bekerja dengan keterampilan yang memadai dalam Islam penting setiap muslim, karena merupakan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya dan keluarga. Sebaliknya karena bila masyarakat Muslim banyak yang menganggur akan menjadi beban dalam islam bahkan akan melemahkan islam itu sendiri. Paling tidak ada tiga hal perlunya keterampilan dalam Islam, yaitu menutupi kebutuham umat Islam itu sendiri, ketrampilan yang memdai akan alat untuk mengusir kemiskinan dalam diri umat islam dan mengurangi jiwa dari masalah. Berikut adalah beberapa Materi Pendidikan Keterampilan menurut hadits Rasulullah SAW: 1. Rasulullah Menganjurkan untuk Mengajarkan Berenang, Memanah, dan Berkuda Rasulullah bersabda; عَلِّمُوْا اَوْلَادَكُمْ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَنِعْمَ لَهُوَ الْمُؤْمِنَةِ فِي بَيْتِهَا الْمِغْزَلِ وَاِذَا دَعَاكَ اَبَوَاكَ فَاَجِبْ اُمُّكَ (رواه الديلمي( Artinya: “Ajarkanlah anak-anakmu berenang dan memanah, dan sebaik-baiknya permainan wanita mukmin dalam rumahnya adalah memintal (tenun) benang, dan apabila menyeru kepadamu kedua orang tuamu, maka perkenankanlah lebih dahulu ibumu.” Olah raga berkuda, memanah, dan berenang, selain memerlukan kekuatan fisik, juga membutuhkan intelektualitas yang tinggi. Pada zaman kejayaan Islam, pasca-Nabi Muhammad Saw (antara tahun 750-924), kekuatan para prajurit Islam benar-benar tertumpu pada keahlian berkuda, memanah, dan berenang. Ketika menaklukkan Mesopotamia (Irak) dan Persia (Iran), pasukan Muslim terdiri dari para penunggang kuda yang piawai. Mereka uga harus mampu berenang mengarungi sungai-sungai Tigris dan Eufrat, serta menembus sasaran dengan panah (cikal bakal pasukan kavaleri dan artileri sekarang). Begitu pula dengan pasukan Turki Ustmani di bawah Sultan Muhammad Al Fath. Ketika merebut Konstatinopel pada abad 14, harus terlebih dulu berenang mengarungi Selat Bospurus (karena laju kapal dihadang oleh armada Romawi Byzantium di sepanjang pantai), baru naik kuda untuk mengobrak-abrik pasukan musuh dengan serangan panah bertubi-tubi. Bahkan pada zaman Nabi Muhammad saw, ketika terjadi perang-perang besar melawan kaum musyrikin dan kafirin, adu kepandaian berkelahi orang per orang –baik menggunakan tangan kosong, maupun menggunakan senjata (pedang atau tombak)– seakan-akan menjadi tradisi “pembukaan perang” massal. Pada Perang Badar (bulan Ramadan tahun 2 Hijrah), misalnya, Sayyidina Ali dan Sayyidina Hamzah tampil melawan jago-jago berkelahi dari pihak kafir Quraisy. Setelah jago-jago Quraisy tersungkur mati, barulah perang massal dimulai. Dalam keadaan berpuasa waktu itu dan berkekuatan 313 orang saja, umat Islam berhasil mengalahkan para musyrikin Quraisy yang berjumlah 950 orang dan dipimpin para pakar perang berpengalaman, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan, dan Khalid bin Walid. Kemenangan kaum Muslimin dalam perang Badar tercantum dalam Alquran, surat Al Anfal ayat 1-10 Melatih fisik dengan berenang dan memanah dianjurkan oleh Rasulullah kepada para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Hal ini dipertegas oleh Umar bin Khatthab Ra. yang berkata, “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan perintahkanlah mereka untuk melompat ke atas kuda.” Uqbah bin Amir Ra. selalu ingin latihan memanah padahal beliau telah lanjut usia, sehingga pernah ada yang mengatakan kepadanya, “Anda mengerjakan itu padahal Anda telah lanjut usia dan itu memberatkan Anda.” Beliau menjawab, “Kalau bukan karena sabda Rasulullah Saw., aku tidak akan mengerjakannya lagi. Rasulullah Saw. bersabda, مَنْ عَلِمَ الرَّمْىَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى “Barangsiapa yang tahu memanah kemudian meninggalkannya, maka ia bukan golongan kami—atau beliau bersabda, “Maka ia telah berbuat maksiat.” (HR. Muslim). Disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Ismail ‘As adalah seorang pemanah. Demikian pula dengan nabi kita Muhammad Saw. juga adalah seorang pemanah ulung. Uqbah Ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda—saat itu beliau berada di atas mimbar, وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah, kekuatan itu adalah dengan melempar—beliau mengucapkannya tiga kali).” (HR. Muslim). Melempar dalam hadits ini bisa bermakna memanah, menombak, dan menembak dengan berbagai jenis senjata. Dalam riwayat lain, Nabi Saw bersabda: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَاتِمٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَفَرٍ مِنْ أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْمُوا بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا ارْمُوا وَأَنَا مَعَ بَنِي فُلَانٍ قَالَ فَأَمْسَكَ أَحَدُ الْفَرِيقَيْنِ بِأَيْدِيهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكُمْ لَا تَرْمُونَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْمِي وَأَنْتَ َعَهُمْ قَالَ ارْمُوا وَأَنَا مَعَكُمْ كُلِّكُمْ Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaybah ibn Sa’id, telah bercerita Hatim dari yazid bin Abi ‘Ubaid dari salamah, telah menceritakan kepada kami samah ra berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW bersua dengan sekelompok orang dari Bani Aslam yang sedang berlomba memanah, maka beliau SAW bersabda: Memanahlah kalian, hai bani Ismail, sebab nenek moyangmu dahulu (Ibrahim As) adalah seorang pemanah.Panahlah dan saya bersama bani fulan. Maka salah satu kelompok berhenti. Rasul bersabda: kenapa kamu tidak memanah, maka mereka berkata: wahai Rasulullah SAW kami memamah tapi kamu memihak kepada mereka, Rasul pun bersabda: Panahlah dan saya bersama kalian semuanya. Tidak ada jenis olahraga yang dapat menguatkan tulang, melenturkan urat saraf dan menambahkan ketangkasan seperti olahraga renang. Berenang melibatkan semua otot di seluruh bagian tubuh. Semua organ vital, seperti jantung dan paru-paru ikut terlatih. Ini sangat menyehatkan dan membuat tubuh bertambah bugar. Daya tahan tubuh pun meningkat. Renang membuat otot dada dan paru-paru mengembang yang membuat kapasitasnya makin besar. Berenang sangat efektif membakar lemak. Berdasarkan penelitian, sekitar 25% kalori bisa terbakar dengan berenang. Pengajaran memanah dan menunggang kuda menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memasukkan aspek jasmani sebagai satu aspek yang dibina dalam kurikulum pendidikan. Pengajaran ini mempunyai faedah yang besar dalam menciptakan kesehatan mental dan memberi ruang untuk melampiaskan motivasi-motivasi serta keinginan-keinginannya, menciptakan kesehatan jasmani, keserasian, kekuatan dan pertumbuhan yang sesuai, serta mempersiapkan diri untuk menanggung kehidupan dan berjuang pada jalan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: ان الله يحب اذا عمل أحدكم العمل أن يتقنه” Artinya: Sesungguhnya Allah suka jika seseorang mengerjakan sesuatu pekerjaan bahwa membuatnya dengan baik (professional).” Pendidikan Islam juga menaruh perhatian pada ilmu teknik, praktis dan pada latihan-latihan kejuruan dan pertukangan. Perhatiannya tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu dan kajian-kajian teoritis yang diperoleh melalui pengajaran dan kajian teoritis pada cara-cara dan sumber-sumber tertulis yang banyak mengunakan pemikiran abstrak. Pendidikan Islam tetap mementingkan ilmu-ilmu praktis di mana pelajar menggunakan akal, tangan dan jari-jarinya. Ia bersentuhan dengan benda-benda kasar selama mengkaji dan melatih diri, yang akhirnya menyiapkan untuk mengembangkan keterampilan tangan (manual dexterity) dan menciptakan produksi yang baik. Ibnu Sina, dalam salah satu kitabnya berkata: “kalau kanak-kanak sudah siap mempelajari al-Qur’an dan telah menghafal prinsip-prinsip bahasa, maka pada waktu itu hendaklah ditinjau akan ke manakah anak itu dijuruskan dalam segi pekerjaan. Kalau ia mau menjadi penulis maka hendaklah ditambahkan untuknya pelajaran bahasa Arab, berupa pelajaran persuratan (rasail) pidato (khutbah), perdebatan (muhawarah), dan lain-lain, kemudian diajar hitungan syair-syair dan tulisan halus. Kalau ia ingin yang lain maka ia harus memperbanyak pelajaran pada bidang itu. 2. Rasul Sebagai Bisnisman Sebagian besar kehidupan Rasulullah SAW sebelum menjadi utusan Allah adalah sebagai pengusaha. Muhammad SAW memulai karir bisnisnya ketika berumur 12 tahun dan sudah memiliki usaha sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan ini terus dilakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu sekitar umur 37 tahun. Dengan demikian beliau telah berprofesi sebagai pedagang selama lebih kurang 25 tahun. Berikut ini gambaran tentang peribadi Nabi sebagai seorang pebisnis dan wirausahawan: a. Masa Kecil Membentuk Jiwa Wirausaha Sebagaimana dimaklumi, bahwa nabi Muhammad mempunyai pengalaman yang pahit dengan terlahir sebagai yatim, ayahnya meninggal sewaktu Muhammad masih dalam Kandungan ibunya. Kemudian menjadi yatim piatu sewaktu berumur 6 tahun, kemudian beliau diasuh oleh kakeknya abdul Muthalib dan setelah wafat kakeknya beliau diasuh oleh pamannya yang hidupnya sangat sederhan. Sehingga Muhammad kecil harus membantu ekonomi keluarga sang paman dengan bekerja “serabutan” kepada penduduk Makkah. Pengalaman ini menjadi modal psikologis beliau ketika menjadi seorang wirausahawan di kemudian hari. Dalam haditsnya Nabi Muhammad pernah mengatakan: ”semua nabi pernah mengembala ternak”. Sahabat bertanya:” bagaimana dengan engkau ya Rasulullah?beliau menjawab: ”Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan dia pernah mengembala ternak”. Sahabat kemudian bertanya lagi: “anda sendiri bagaimana ya Rasulullah SAW? Beliau menjawab: “Aku dulu mengembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath” b. Perjalanan Dagang Nabi Muhammad SAW Karir bisnis Muhammad SAW dimulai ketika mengikuti pamannya berdagang ke Syiria. Waktu itu beliau berumur 12 tahun. Sejak itulah Muhammad SAW melakukan semacam kerja magang (intership) sebagai modal awal dalam bisnisnya. Menjelang usia dewasa beliau memutus berdagang sebagai karirnya. Awalnya beliau berdagang kecil-kecilan di Makkah, beliau membeli barang dari satu pasar dan menjualnya ke pasar lainnya. Sampai kemudian beliau menerima modal dari para investor dan juga para janda kaya dan anak-anak yatim yang tidak sanggup menjalankan sendiri hartanya dan mereka menyambut baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan yang mereka miliki berdasarkan kerjasama mudharabah Wilayah bisnisnya mencapai Yaman, Syiria, Busyra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdaganngan di Jazirah Arab, menurut Afzalurrahman dalam bukunya Muhammad Sebagai Pedagang, sebagaimana dikutip Antonio Syafii menyatakan bahwa sebelum menikah Nabi Muhammad SAW menjadi Manager perdagangan Khadijah ke pusat perdagangan habsyah di Yaman. Muhammad Saw empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syiria dan Jorash di Yordania c. Bisnis setelah Menikah Setelah menikah Muhammad SAW tetap melangsungkan usaha perdagangannya seperti biasa. Namun beliau bertindak sebagai manager sekaligus mitra dalam usaha istrinya. Beliau melakukan perjalanan bisnis ke berbagai pusat perdagangan di seluruh penjuru negerinya dan negeri tetangga. Namun tidak banyak sumber sejarah yang menjelaskan usaha perdagangan dan usaha bisnisnya setelah menikah, namun Menurut Afzalurrahman sebagaimana dijelaskan Antonio Syafii, bahwa terdapat catatan tentang hubungan dagang beliau dengan berbagai macam orang. Bahkan beberapa hadits tentang perdagangan menunjukkan bahwa Muhammad SAW tahu persis dseluk bisnis, beliau mengetahui bagaimana cara agar perdagangan bisa berhasil. Beliau juga tahu tentang sifat-sifat yang dapat merusak atau menghambat bisnis perdagangan yang dilakukan seseorang atau merusak sistem pasar secara keseluruha, seperti kecurangan dalam timbangan, menyembunyikan cacat barang yang dijual, riba, gharar, dan sebagainya. Hal ini tentu tidak mungkin dijelaskan oleh orang yang tidak terjun langsung ke dunia bisnis. Bahkan beliau membuktikan bahwa kesuksesan dalam bisnis dapat dicapai tanpa menggunakan cara-cara bisnis yang terlarang tersebut. Berikut perjalanan Bisnis Muhammad SAW samapai masa kenabian sebagaimana di simpulkan oleh Syafii antonio: Umur Aktivitas utama karir bisnis dan dakwah muhammad 12 Intership/ Magang usha dan dagang 17 Usaha Mandiri sebagai Manager/ Agent Perdagangan Regional 25 Menjadi Bisnis owner & aliansi dengan Investor 37 Peduli dengan masalah Akhlak 40 Berdakwah meluruskan tata cara dan moralitas bisnis umat 53 Membangun pasar di samping masjid 63 Memastikan umat Islam tidak merugi di akhirat nanti karena pola bisnis yang riba, haram dan tidak bermoral 3. Rasulullah SAW sebagai militer Menghadapi kaum Quraisy yang keras, nabi Muhammad SAW selama 13 tahun tidak memberikan perlawanan dalam bentuk fisik, baru ketika nabi berada di Madinah setelah diizikan Allah dan kaum muslimin memiliki kemampuan. Selama periode Madinah ini Rasulullah SAW memimpin perang beberapa kali karena menghadapi ancaman kaum kafir dari kaum musyrik Makkah, musyrik sekitar makkah, kaum Yahudi di luar Madinah, Kerajaan Romawi, Kerajaan Persia, kerajaan-kerajaan kecil di jazirah Arab. Walaupun tidak semua perang itu diselesaikan dengan pertempuran, namun nabi sebagai pemimpin militer dan terjun ke lapangan menghadapi musuh adalah bukti rasulullah memiliki kemampuan fisik dan strategi perang yang jitu. E. Penutup Pendidikan jasmani dan keterampilan dalam pandangan Islam –khususnya dalam dalam perspektif Hadits- sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan aspek jasmani dalam hidupnya sesuai dengan ajaran Islam atau dapat juga diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya. Oleh sebab itu Pendidikan jasmani dan keterampilan perlu menjadi perhatian bagi pendidik, agar pendidikan islam mampu menjawab tantangan zaman. Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa : pertama, Materi Pendidikan jasmani dan keterampilan adalah bagian dari kurikulum pendidikan Islam yang kedudukannya sama dengan kedudukan materi-materi pendidikan ibadah, aqidah, dan akhlak. Karena keduanya menjadi alat untuk tercapainya tujuan pendidikan islam yang ideal dan materi pendidikan jasmani mendorong peserta didik dapat melaksanakan ibadah kepada Allah secara baik, kedua, Pendidikan jasmani dan keterampilan merupakan alat bagi seorang muslim untuk menjalankan hidupnya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan memiliki kekuatan dan keterampilan, Ketiga,Pendidikan Jasmani dan keterampilan dalam perpektif Islam, secara konseptual lebih komprehensif dibandingkan pendidikan jasmani dan keterampilan yang ada di sekolah dalam sistem pendidikan Nasional, karena sebagai suatu sistem, komponen-komponen dalam pendidikan jasmani meliputi berbagai aspek yang saling berhubungan, Keempat, Walaupum tujuan pendidikan jasmani dalam perspektif Islam, diantaranya untuk pelaksanaan kewajiban syari’ah, namun perlu juga lembaga pendidikan Islam memperhatikan bakat dan minat peserta didiknya di bidang olah raga, dan memberikan bimbingan khusus dengan mendatangkan pelatih yang profesional, karena zaman sekarang olah raga profesional bisa menjadi profesi yang menggiurkan dalam kehidupan dan bisa bersaing dengan bidang profesi lain. Dalam perhelatan Sea Games, pemerintah memberikan hadiah 200 juta setiap pemain yang memperoleh medali emas, pemain bola profesional di Indonesia sudah bisa hidup sejahtera yang digaji oleh perusahaan-perusahaan, dan pemain bulu tangkis juga sudah bisa membangun rumah yang cukup bagi keluarganya, apalagi kalau berbicara tingkat dunia. Sebagai kata penutup dalam makalah ini penulis juga menyampaikan bahwa dalam penulisan makalah yang bersumber pada hadits ini, penulis belum melihat secara komprehensif dan mendalam aspek pendidikan jasmani dan keterampilan oleh sebab itu mohon masukan dari semua untuk memperbaiki makalh sehingga mendapat gambaran yang utuh materi pendidikan jasmani dan keterampilan dalam hadits nabi. Daftar Pustaka Al-Qur’an Dan Terjemahan DVD Kitab alSittah Abuddin Nata (ed), Pendidikan Dalam Perspektif Hadits, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005) Ari Asnaldi, Pendidikan Jasmani, dalam http://artikel-olahraga.blogspot.com/2008/02/pendidikan-jasmani.html, diakses hari Rabu, tanggal 9 November 2011 Anderson, D, The Discipline and the Profession. (Foundations of Canadian Physical Education, Recreation, and Sports Studies. Dubuque, IA: Wm. C. Brown Publishers. 1989) dalam Wikipedia.com Departemen Pendidikan Nasiional, UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia,( Jakarta: Balai Pustaka,1996) Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, Naskah Akademik Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan, 2007 Ibrahim Amini, Agar Tak Salah mendidik Anak, Terjemahan. Ta’lim wa Tarbiyat, (Jakarta: Al-Huda, 2006) Fakhruddin HS, Eksiklopedi Al-Quran, tt: tp, 1992) Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi SAW (terj. Manhaj al Tarbiyyah al-Nabawiyyah li al thifl) cet. VII (Solo: Pustaka Arafah 2009) Muhammad Syafii Antonio, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager, (Jakarta: ProLM Centre, cet. VII, 2007) Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari, 1987: Kitab Jihad No. 2684 Muhammad Syafii Antonio, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager, (Jakarta: ProLM Centre, cet. VII, 2007) Khalid bin Hamid al-Hazimiy, Ushul al tarbiyyah al-Islamiyyah, (Madinah: Dar ‘Alam al-Kutub, 2000) Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979) Sulaiman ibn al-Asy’as Abu Daud as-syajastani al-Ajdi, Kitab Jihad no. 2210 Syafiyyur-rahman Mubarakfuri, Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah SAW, (disarikan dari kitab Al-Rahiqul Makhtum (Riyadh: Kantor Dakwah dan Bimbingan bagi pendatang al-Sulay,2005) Shahih Bukhari, no 2622 kitab al-Ijarah, bab: ra’yu al-Ghanam ‘ala Qararith M Syafii Antonio, Bank Syari’ah: dari Teori Ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar