Rabu, 13 Juni 2012

PEMIKIRAN SJECH H ABDULLAH AHMAD TENTANG PENDIDIKAN

PEMIKIRAN SJECH H ABDULLAH AHMAD TENTANG PENDIDIKAN A. PENDAHULUAN Kenyataan politik di tanah air pada zaman pemerintah Hindia Belanda mengembangkan sistem pendidikan persekolahan. Ketika akan megembangkan pendidikan bagi masyarakat bumi putera, diperkirakan oleh beberapa ahli Belanda sendiri bahwa pemerintah Hindia Belanda akan memanfaatkan tradisi pendidikan rakyat yang sudah berkembang, yakni pendidikan Islam. Karena pendidikan Islam pada saat itu dipandang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang dianggap jelek, baik dari sudut kelembagaan, kurikulum, maupun metode pengajaran. Akhirnya pemerintah Belanda memilih bentuk persekolahan sebagaimana yang sudah dikembangkan jauh sebelumnya, khususnya dalam rangka missionaris. Pada mulanya terdapat beberapa jenis sekolah yang berhasil dibangun dan dikembangkan sebagai realisasi kemauan politik pemerintah kolonial, yaitu Europeese Lagere School (ELS) untuk anak-anak Eropa, sedangkan untuk anak-anak pribumi disediakan sekolah seperti "kelas satu" dan "Kelas Dua". Dalam perkembangan politik tanah jajahan selanjutnya yaitu pada masa politik etis, dikembangkan pula sekolah-sekolah untukanak-anak non Eropa, sekolah itu disamakan statusnya dengan ELS, seperti Hollands Chineesche School (HCS) untuk anak-anak keturunan Cina dan Hollands Indladsche School (HIS) untuk anak-anak pribumi terpilih, terutama dari kalangan bangsawan, pejabat Bumi utera dan keluarga kaya. Untuk lapisan penduduk yang paling rendah disediakan sekolah Desa 3 tahun dan Sekolah Kelas Dua (standar). Kedua jenis sekolah ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pemerintah Hindia Belanda untuk tenaga-tenaga pegawai rendah. Lulusan sekolah ini ditempatkan sebagai tenaga administrasi di berbqagai instansi, seperti juru tulis, juru bayar, dan sebagainya. Untuk itu pelajaran yang diberikan terdiri dari membaca dan menulis serta berhitung dan menggambar. Semua jenis sekolah ini bersih dari pelajaran ilmu agama, dengan kata lain pelajaran agama tidak boleh diajarkan. Pendidikan kolonial ini sangat berbeda dengan pendidikan Islam Indonesia yang tradisional, bukan saja dari segi metode, tapi lebih khusus dari segi isi dan tujuannya. Pendidikan yang dikelola oleh Kolonial ini khususnya berpusat pada pengetahuan dan keterampilan duniawi, yaitu pendidikan umum. Pada sistem pendidikan ini bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa pengantar pengajaran, mata pelajaran agama dilarang, murid-muridnya berpakaian Eropa. Di pihak lain mereka dididik menjadi calon birokrat pemerintah Kolonial di nagari-nagari. Di antara ciri-ciri politik dan praktek pendidikan itu adalah: gradualisme, dualisme, kontrol sentral,tidak adanya perencanaan pendidikan yang sistematis untuk pendidikan anak pribumi. Lembaga pendidikan Islam di Minangkabau sebelum tahun 1900-an, yaitu surau, masih melihatkan wajah yang tradisional dan sangat sederhana sekali, baik dilihat dari tujuan, kurikulum dan sistem pengajaran. Oleh Mahmud Yunus dinamakan dengan sistem lama. Pelaksanaan pendidikan masih secara informal dalam rangka dakwah Islam. Pendidikan yang mereka berikan di surau bersifat elementer, yaitu dimulai dengan mempelajari abjad huruf Arab atau kadang-kadang mengikuti guru dengan menirukan apa yang telah dibacanya dari kitab suci al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan dengan pengajian kitab-kitab, seperti kitab fiqh, Nahu, Sharaf, dan tasauf. Sedangkan ilmu pengetahuan umum belum diajarkan di surau. Sistem pendidikan yang diterapkan di surau adalah halaqah. Berdasarkan kondisi tersebut, maka tokoh pembaharuan melakukan pembaharuan sistem Pendidikan Islam. Mereka mulai mendirikan Madrasah (sekolah agama). Tokoh Utama yang melakukan pembaharuan ini adalah syekh H. Abdullah Ahmad. Haji Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang tahun 1878, putra Haji Ahmad, seorang alim dan pedagang tekstil. Ia terutama menentang bid’ah dan praktek-praktek tarekat. A. Riwayat Hidup Dan Karir Abdullah Ahmad 1. Riwayat Hidup H. Abdullah Ahmad adalah salah seorang ulama Minangkabau, penggerak dan pembangun semangat keinsyafan yang paling besar. Ia terkenal karena ke’alimannya, karena hasil perjuangannya membetulkan paham agama dari khurafat dan taqlid buta dan bidh’ah. Dia orang yang pertama kali berjuang di tengah-tengah masyarakat umat Islam tanpa kenal lelah sampai hari tuanya. Ia bukan seorang politikus praktis dengan mendirikan partai politik untuk menggerakkan masyarakat seperti yang dilakukan para politikus zaman sekarang, akan tetapi ia adalah seorang sosialis Islam, seorang pujangga yang banyak menulis baik dalam bentuk buku ataupun dalam majalah, dia seorang ahli pendidik. Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878. Ia adalah putra A. Ahmad, seorang ulama Minangkabau yang senantiasa mengajarkan agama di surau-surau, di samping sebagai saudagar kain Bugis. Pamannya juga seorang ulama yang terkenal dengan nama Abdul Halim atau lebih dikenal dengan sebutan “syekh Gapuk” yaitu orang yang mendirikan masjid Ganting, masjid yang paling besar di Minangkabau. Selain itu keluarganya termasuk orang-orang baik dan orang terhormat. Pendidikan Abdullah Ahmad dimulai dengan mempelajari agama Islam kepada orang tuanya serta beberapa guru yang ada di daerahnya. Setelah baligh, ia dimasukkan ke kelas dua (sekolah yang diperuntukkan bagi kaum pribumi) di Padang Panjang. Karena ayahnya seorang ulama yang berpikiran modern, maka Abdullah Ahmad sangat diharapkan agar menjadi orang terpelajar dan memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang agama. Selanjutnya pada usia tujuh belas tahun (1895), ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, sambil melanjutkan pelajaran agama pada syeikh Ahmad Khatib, seorang ulama asal Minangkabau yang bermukim di Mekkah, serta kepada beberapa ulama lainnya di Mekkah. Salah satu pertimbangan dikirimnya Abdullah Ahmad ke Mekkah adalah karena di Minangkabau pada saat itu belum ada sekolah agama yang teratur baik, sementara Mekkah pada saat itu terkenal sebagai pusat penyebaran agama Islam, dan sudah banyak orang Minangkabau yang bermukim di sana. Selama empat tahun belajar di Mekkah, Abdullah Ahmad juga terus mengikuti perkembangan gerakan wahabiyah yang digencarkan pada saat itu. Gerakan ini dilakukan untuk menghapus praktek bid’ah, khurafat dan takhayul yang disisipkan ke dalam ajaran Islam dan banyak di amalkan oleh umat Islam di Mekkah pada saat itu. Masalah lain yang mendapat perhatian gerakan wahabiyah ini adalah masalah taqlid, yaitu sikap mengikuti pendapat orang lain secara membabi buta tanpa mengetahui dasar hukumnya dari al-Qur’an dan hadits. Di Mekkah Abdullah Ahmad belajar tidak sendirian, tetapi bersama teman-teman seangkatannya? Dengan seorang ulama besar pada saat itu dan juga berasal dari Minangkabau, yaitu Syekh Ahmad Khatib kelahiran IV Angkat Candung. Hingga tahun 1899 ia kembali ke tanah air. Pada tahun 1926 diadakan musyawarah besar umat Islam tentang khalifah di Kairo yang di hadiri oleh khususnya ulama-ulama dari Timur Tengah. Abdullah Ahmad dan H. Abdul Karim Amrullah diundang untuk menghadiri komperensi tersebut. Ulam-ulama Timur Tengah itu menganugrahkan kepada kedua ulama tersebut dengan gelar Doktor dalam ilmu agama. Reputasi ini cukup tinggi dicapai berkat ke'aliman dalam ilmu agama, pemikiran dan gagasan yang diajukan untuk memperbaiki umat Islam dalam sidang terhormat itu. Setelah kembalinya ke tanah air, namanya semakin terkenal karena ilmu yang dipelajarinya di Mekkah, sebagai seorang ulama banyak orang yang ingin menjadi muridnya. banyak orang yang minta nasehat dan fatwa agamanya. Mula-mula di rumahnya, kemudian di surau dan di Masjid. Sehingga ia memiliki murid dan jama’ah yang tidak sedikit, yang akan kita jelaskan pada bab-bab berikutnya. Tidak beberapa lama setelah ia mendirikan Normal Islam di Padang, ia meninggalkan dunia dalam usia lebih kurang 056 tahun pada tahun 1934 Tidak diketahui secara pasti di mana dia meninggal, tapi yang jelas ia dikuburkan di komplek Adabiyah School di Padang. 2. Karir Berkat ketekunan dan kecerdasannya dalam menguasai pengetahuan agama, selama di Mekkah, Abdullah Ahmad pernah diangkat jadi asisten dari Syaikh Ahmad Khatib. Selanjutnya pada tahun 1899, Abdullah Ahmad kembali ke Minangkabau dan mulai mengajar di surau Jembatan Basi Padang Panjang. Di daerahnya ini ia mulai mengajar dengan menggunakan cara tradisional, yaitu dengan sistem halaqah. Setibanya di kota Padang Panjang, dengan tiada menunggu lama-lama, ia lantas menyingsigkan lengan bajunya, ia mulai mengajar di surau Jembatan Besi. Surau Jembatan Besi inilah yang telah membuka tabir riwayat besar dari seluruh Minangkabau bahkan seluruh Indonesia, karena dari sanalah terciptanya perkumpulan “Sumatera Thawalib” yang kemudian menjelma pula menjadi Persatuan Muslim Indonesia (Permi), sebagai partai politik yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kemudian ia mendirikan sekolah agama (madrasah) dengan sistem memakai meja, bangku dan papan tulis yang pada saat itu belum ada lembaga pendidikan agama yang memakai bangku, kecuali sekolah Belanda yang telah lama mengadakan sistem pendidikan yang kalsikal seperti itu, maka ketika Abdullah Ahmad mendirikan sekolah agama dengan sistem belanda tersebut, kata mahmud Yunus bukan main cacian kepadanya,karena biasanya mengaji itu hanyalah duduk berselabukan duduk di bangku dan memakai meja, seperti sekolah Belanda. Pandanagan masyarakat yang sanagat tradisional tersebut membuat Abdullah Ahmad meninggalakan kota Padang panjang, karena tidak mungkin bagi Abdullah Ahmad mendirikan lembaga pendidikan agama tanpa dukungan masyarakat, maka ia berangkat ke Padang pada tahun 1906 dan di sana ia menjadi guru agama di Masjid Raya Ganting, menggantikan pamannya, Syeikh Abdul Halim yang telah meninggal dunia. Abdullah Ahmad tidak langsung mendirikan sekolah di kota Padang. Di kota ini ia mengadakan tabligh-tabligh dan pertemuan-pertemuan tentang masalah-maslalah agama dan mendirikan perkumpulan jam'ah Adabiyah beberapa tahun kemudian. Asal mula perkumpulan ini adalah kelompok murid-muridnya sejumlah delapan orang. Ia juga memberikan pelajaran kepada kira-kira 300 orangpenduduk kota Padang. Pengajian ini diselenggarakan dua kali seminggu secara berganti-ganti dari satu rumah ke rumah yang lain. Berkat lobi-lobi yang dilakukannya, akhirnya ia dapat mendirikan sekolah agama yang di beri nama Adabiyah School tahun 1909. Tentu saja sekolah ini masih sama dengan sekolah yang didirikannya di Padang Panjang. Karena dukungan masyarakat sekolah ini lebih bertahan dibandingkan dengan sekolahnya di Padang Panjang. Ini bisa dipahami, karena masyarakat Padang tentu lebih berpikir maju di bandingkan masyarakat Padang Panjang. Penamaan ini mungkin sekali dimaksudkan sebagai simbol kebangkitan ilmu pengetahuan sebagai penunjang utama bagi kebangkitan peradaban Islam. Tujuan Abdullah Ahmad mendirikan sekolah ini adalah untuk membentuk manusia cerdas, berkebangsaan dan bertakwa kepada Allah SWT. Sejak masa muda, ia telah melakukan kontak intelektual dengan kaum terpelajar, seperti siswa-siswa sekolah menengah pemerintah di Padang dan sekolah Dokter di Jakarta, serta banyak memberikan bantuan bagi gerakan Jong Sumatranen Bond. Kontak ini dilakukan secara tatap muka dan melalui surat menyurat, terutama dengan gurunya, Syaikh Ahmad Khatib serta para sahabatnya yang berada di Mekkah. Pada tahun 1905 ia pernah memperanyakan masalah thariqat Naksabandiyah kepada gurunya Syekh Ahmad Khatib di Mekkah. Dari guru besarnya itu ia mendapat jawaban bahwa Thariqat Naqsabandiyah itu sama sekali tidak berasal dari agama sedikit juga, melainkan semata-mata buatan manusia belaka, dan dianggap bid’ah dhalalah (sesat). Tak lama kemudian terjadilah pertemuan antara H. Abdullah Ahmad dengan dengan Syekh Yunus di Padang Panjang. Pertemuan ini membahas hal-hal yang dianggap bid’ah dalam asyarakat, akhirnya lahirlah buku Abdullah Ahmad yang bernama “Izharu Zaglil Kazibin” yang menerangkan kebatalan amalan thariqat itu. Atas persetujuan gurunya buku tersebut dicetak dan diperbanyak di Padang. Inilah salah faktor perlawanan yang sangat dahsyat, tidak hanya dia berhadapan dengan kaum ulama tua tapi juga dari kaum adat. Di samping itu, salah seorang sahabatnya tempat berdiskusi, selain gurunya, adalah syaikh Jalaluddin, pemimpin Majalah al-Iqbal dan Majalah al-Imam di Singapura, serta melalui media cetak lainnya. Kontaknya dengan pemikiran modern ini cukup berpengaruh terhadap karakteristik pribadinya dan tercermin dalam gerakan dan perhatiannya pada tahap selanjutnya melalui berbagai kegiatannya dalam bidang pendidikan, sosial dan keagamaan. Sungguhpun Abdullah Ahmad amat sibuk dengan berbagai kegiatannya sebagaimana disebutkan di atas, namun ia tetap produktif. Dari tangannya banyak karya tulis yang dibuat. Di antara karya tulis tersebut adalah Al-Munir, yaitu mjalah yang mengandung misi pembaruan Islam. Majalah ini ditebitkan dua minggu sekali di kota Padang, yaitu sejak tahun 1911 sampaidengan tahun 1916. Kedudukan Abdullah Ahmad dalammajalah tersebut adalah sebagai Ketua Dewan Redaksi, yang dibantu oleh H. Abdul Karim Amrullah, Muhammad Dahlan Sutan Lebak Tuah, H. M. Thaib Umar Batu Sangkar, Sutan Muhammad Salim dan sebagainya. Melalui majalah al-Munir, pengikut-pengikut abdullah Ahmad bukan semakin bertambah banyak, tetapi sebaliknya menyebabkan musuh-musuhnya semakin melawan nya, bahkan ia dianggap pula oleh musuh-musuhnya membuat bid’ah yang lebih besar pula, karena menyiarkan agama melalui majalah tersebut, padahal itu adalah perbuatan orang kafir. Pekerjaan berat ini akhirnya mendapat bantuan dari teman-temannya yang sepaham, yaitu Syekh Haji Abdul Karim Amrullah, Syekh Muhammad Djamil Djambek, H. M. Thaib Umar dan lain-lain. Orang-orang inilah yang banyak melakukan pembaharuan di Minangkabau pada saat itu. Sehingga suara al-Munir tetap mendengung keseluruh daerah Minangkabau. Majalah ini masih sempat bertahan selama lima tahun, dengan hasil yang sangat memuaskan dan membawa pengaruh yang tidak sedikit dalam kehidupan pikiran dan tenaga, sehingga ia menjadi miskin melarat karenanya. Maklumlah karena ia tidak mendapat bantuan dari orang lain. Barulah kemudian, setelah diketahui orang bahwa ia telah menjadi miskin karena perjuangannya, datang bantuan-bantuan dari saudagar-saudagar di Padang untuk penghidupannya. Nasibnya hampir sama dengan Haji Samahudi Pelopor Sarikat Islam di Jawa yang oleh karena mengorbankan harta untuk pergerakan ia menjadi miskin. Majalah itu terhenti semenjak tahun 1916, kemudian diteruskan oleh Zainuddin Labay di Padang panjang dengan haluan yang tidak jauh berbeda selama dua tahun. Namun dalam masa-masa yang berat itu dia tidak putus asa, dia kembali menerbitkan majalah baru dengan nama “Al-Irfaq wa al-ftiraq”. Tapi usia majalah itupun tidak lama, hanya dua tahun saja, lalu ia menghembuskan nafas yang penghabisan. Sekalipun jalan jurnalistik agak sulit dilaluinya, namun hati dan semangatnya tidak padam. Dari menulis dalam majalah ia pindah kepada menulis buku-buku. Tidak kurang dari 30 buku karangannya sendiri. Buku-buku tersebut menjadi bacaan setiap golongan sejak dari orang biasa sampai ke golongan tinggi, ulama dan kaum terpelajar. Semua buku itu berhaluan kemajuan berdasarkan agama semata-mata. Karya tulis berikutnya adalah Titian ke Surga yang merupakan kitab yang berisi pokok-pokok agama. Buku ini diterbitkan oleh Sarikat ilmu dan dicetak pada percetakan majalah al-Munir di Padang. Di dalam buku ini dibahas tentang arti agama, pokok agama dan hukum. Karangan Abdullah Ahmad berikutnya adalah al-Islam. Yaitu berupa majalah bulanan yang terbit di Surabaya pada tiap awal dan pertengahan bulan. Tujuan majalah ini adalah untuk mengangkat derajat bangsa. Di antara penulis pada artikel ini adalah HOS Cokroaminoto dan Abdullah Ahmad sendiri. Di antara artikel tersebut banyak berbicara tentang Islam yang sesungguhnya, syari’at Islam, Ilmu Tarikh, dan lain sebagainya. Selanjutnya Abdullah Ahmad menulis buku berjudul Ilmu Sejati. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang berbentuk buku, terbit dalam bahasa Arab Melayu, terdiri dari empat jilid dan dicetak pada penerbitan Al-Munir, Padang, antara tahun 1926-1917. Abdullah Ahmad juga menulis tentang sya’ir perukunan yang berisi kumpulan sya’ir-sya’ir untuk nyanyian murid-murid sekolah, diterbitkan di Padang pada bulan Agustus 1917. Selain itu masih ada lagi buku berjudul Pembuka Pintu Surga, al-Ittifaq wa al-Iftiraq serta Izharu Zaglil Kazibin yang dikarang oleh Abdullah Ahmad. B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Abdullah Ahmad tentang Pendidikan Sebelum dijelaskan tentang model-model pembaharuan Abdullah Ahmad tentang pendidikan, dalam bab ini penulis akan melihat beberapa penyebab atau faktor yang melatarbelakangi pemikirannya. Amir Syarifuddin yang telah melakukan penelitian tentang Abdullah Ahmad sebelumnya telah menyebutkan ada empat faktor yang melatarbelakangi pemikiran Abdullah Ahmad; pertama, suasana pengamalan agama di Minangkabau. Kedua, Suasana pendidikan Islam di Minangkabau. Ketiga, Suasana pendidikan umum di Minangkabau. Keempat, pemikiran beberapa tokoh pembaharu. Secara kolektif semua faktor ini melatarbelakangi pemikiran Abdullah Ahmad dalam melakukan pembaharuan di Minangkabau. Sulit untuk meninggalkan salah satu dari faktor-faktor ini. Berikut ini beberapa faktor yang melatarbelakangi pemikiran Abdullah Ahmad tentang pendidikan: 1. Pengalaman Agama di Minangkabau Sebelum Islam datang, masyarakat Minangkabau secara umum merupakan komunitas masyarakat yang sangat teguh memelihara nilai-nilai adat. Nilai-nilai tersebut sangat mewarnai berbagai bentuk interaksi sosial dan pandangan hidup mereka. Masuknya pengaruh Hindu dan Budha telah memberikan warna tersendiri terhadap perilaku hidup keseharian masyarakat. Adat istiadat dan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau berakulturasi secara evolusi dengan kebudayaan Hindu dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku sebelumnya. Ketika Islam masuk dan berkembang di Minangkabau, masyarakat dapat menerima dengan sangat terbuka. Namun demikian beberapa praktek adat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam masih tetap dilaksanakan dalam berbagai dimensi kehidupan. Sebagai konsekwensi dari hal tersebut, menurut Azyumardi Azra, banyak ajaran agama yang dicampurkan dengan praktek-praktek adat dan kepercayaan tradisional yang masih langgeng tersebut. Di antara praktek-praktek adat yang masih berkembang adalah kebiasaan ngobrol-ngobrol di Kedai Kopi (Lapau), menyabung ayam, minum arak, menghisap candu dan tembakau, berjudi dan lain-lain. Sedangkan kepercayaan tradisional yang masih eksis diantaranya kepercayaan terhadap hantu dan arwah nenek moyang, melakukan kenduri arwah pada bilangan malam tertentu, mandi shafar (diyakini dapat membuang sial). Praktek-praktek kepercayaan seperti itu, menurut Hamka, hakikatnya merupakan warisan dari paham animisme dan dinamisme. Kepercayaan seperti sangat erat hubungannya dengan ajaran agama Hindu dan bertentangan dengan ajaran Islam. Pada saat itu tidak dapat lagi dibedakan antara ajaran agama, perbuatan bid'ah, syirk dan agama bercampur dengan tradisis-tradisi yang berkembang sebelum Islam datang. Ilmu sihir berkembang pesat, suka membuat azimat serta adanya kepercayaan terhadap kekeramatan kubur. Yang lebih menarik lagi menurut Edwar (ed) paham sufi dan tarekat serta suluk dianggap suatu keharusan, ajaran wahdah al-wujud berkembang dan suasana keagamaan hanya tampak pada upacara-upacara kematian. Kenduri peringatan mauled, isra' mi'raj dan lain-lain Pengalaman agama seperti disebutkan di atas, menurut Amir Syahruddin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemikiran Abdullah Ahmad. Karena inilah persoalan yang pertama diperbaharui oleh Abdullah Ahmad dan teman-temannya pada masa awal pembaharuan. Menurut penulis gambaran suasana pengalaman agama yang disebutkan di atas adalah sebagaian kecil dari faktor yang melatarbelakangi pembaharuan pendidikan pada wala abad XX. Karena faktor paling besar adalah suasana pendidikan Islam dan suasana pendidikan Belanda pada saat itu. Namun ini juga tidak bisa dipisahkan dari suasana pengalaman beragagama. 2. Pendidikan Islam Di Minangkabau Menurut Taufiq Abdullah, sebagaiman dikutip oleh Murni jamal Secara tradisional di Minangkabau terdapat dua jenis sekolah religius. Yang pertama adalah surau (sekolah mengaji), yang umumnya terdapat satu pada setiap distrik nagari (kampung atau desa). Di situ anak-anak belajar mengaji Al-Qur’an. Kedua adalah madrasah, dimana di ajarkan pengajaran al-qur’an. Inilah jenis sekolah agama sesudah tahun 1890. Sedangkan sebelum itu, yaitu sejak Belanda datang menjajah ke Minangkabau pada tahun 1837 sampai 1890, tidak banyak diketahui. Namun menurut penulis pengajian agama dan Al-Qur’an telah ada di Minangkabau semenjak abad ke-17 ketika kembalinya Syekh Burhanuddin ke Minangkabau. Ini sesuai dengan pendapat Prof. Mahmud Yunus, sejarah lembaga-lembaga religius di Minangkabau dimulai ketika Islam pertama-tama memasuki daerah itu. Ia berpendapat bahwa begitu Minangkabau menjadi daerah Muslim, rakyat pasti memerlukan bimbingan tentang ajaran Islam dan praktek-prakteknya, kebutuhan ini bisa dipenuhi melalui lembaga-lembaga religius seperti surau atau madrasah di mana orang bisa mempelajari doktrin Islam, dan Masjid untuk bersholat. Sesuai dengan tradisi Minangkabau yang dikenal luas yang menganggap anak laki-laki tidak mempunyai kamar lagi di rumah ibunya sesudah usia 12 tahun, kalau tidak, akan dikatakan masih disusui ibunya. Kegunaan dan fungsi surau lebih berarti dibandingkan bagian-bagian lain di Indonesia. Anak laki-laki meningkat remaja, bahkan lebih awal, harus tidur di surau atau di Balai adat. Bila usia anak sudah mencapai tujuh tahun dikirim ke surau untuk belajar agama di sore hari. kemudian bermalam di tempat itu. Dalam hal ini Mahmud Yunus menggambarkan bahwa kadang-kadang ratusan anak laki-laki berada di surau belajar mengaji Al-Qur’an dari seorang Qari’ (guru mengaji).Di situ mereka juga (sejarah hidup nabi yang selalu diceritakan ketka memperingati hari kelahirannya), dsb, jenis lembaga religius ini di sebt sekolah mengaji. Biasanya bila murid-murid menyelesaikan pendidikan mengaji Al-Qur’an, ia melanjutkan ke tingkat selanjutnya yang disebut mengaji sharf dan nahwu (tata bahasa Arab, kemudian dilanjutkan dengan mengaji fiqh (hukum). Lalu, jika ia cukup cerdas ia diizinkan belajar pada tingkat berikut, yaitu mengaji tafsir, di tingkat ini murid kebanyakan terdiri dari guru bantu, yang duduk mengelilingi guru (halaqah). Sesuai tingkatan pendidikan mereka, maka untuk menetapkan tingkat atau kelas, digunakan beberapa istilah sesuai dengan subyek yang diambil oleh seorang murid. Bila seseorang menyelesaikan pendidikan Al-Qur’an, diberi gelar qari, dan bila menyelesaikan fiqih diberi gelar faqih, bila ia menguasai tafsir ia disebut lebai, Untuk menyelesaikan pendidikan pada semua tingkat ini, murid menghabiskan waktu yang cukup lama, bahkan sampai sembilan belas tahun. Lamanya pendidikan pada tingkat-tingkat yang disebutkan di atas tidak terbatas, tetapi tergantung kepada kemampuan masing-masing murid untuk menyelesaikan pelajarannya. setelah mereka menamatkan pelajaran mereka dalam beberapa tahun mereka belum diberi ijazah apa pun, tetapi harus tetap bekerja di situ sebagai guru bantu selama beberapa tahun. Ada beberapa catatan (kelemahan) pendidikan Islam pada saat itu, pertama, metode pendidikan yang lebih banyak menuntut keaktifan guru untuk berceramah, ini artinya murid lebih pasif. Ini mungkin bisa dipahami pada saat itu karena guru-guru yang mengajar pada saat itu adalah orang-orang yang sangat diagungkan, mungkin memang karena kedalaman ilmunya atau mungkin juga karena memang sudah menjadi tradisi bahwa guru menurut pemahaman mereka sama dengan para nabi atau orang-orang keramat yang bisa memberi syafaat kepada muridnya. Tradisi ini dalam sejarah perkembangan Islam di Minangkabau telah mulai terlihat semenjak datangnya syekh Burhanuddin dari Aceh sekitar abad ke-16. Pemahaman semacam ini masih terlihat sampai sekarang di sekolah-sekolah tradisional, mereka berebutan minum sisa makanan atau minuman guru mereka dengan harapan mereka dapat syafaat dari guru. kedua, lamanya pendidikan yang ditempuh oleh murid pada saat itu cukup lama. Mereka menghabiskan waktu untuk mendalami pelajaran agama sampai puluhan tahun, seolah-olah tujuan hidup mereka hanya untuk menuntut ilmu. Ini mungkin karena disebabkan oleh program pendidikan pada saat itu yang tidak menggunakan perencanaan yang matang seperti yang terdapat pada sekolah-sekolah Belanda pada saat itu. Pada saat itu mereka yang tamat pendidikan surau atau pesantren umumnya menjadi guru di kampung mereka masing-masing, baik dengan mendirikan surau-surau dengan biaya sendiri atau dengan swadaya masyarakat. Tidak diketahui secara pasti sumber penghasilan mereka selain bantuan dari masyarakat berupa sedekah, kecuali bagi mereka yang mempunyai keturunan yang mampu, mereka cukup melanjutkan bisnis orang tuanya. Ini berakibat pada mental murid yang baru menamatkan pendidikan mereka yang terkesan malas berusaha. Dari sudut teologis mereka lebih dekat kepada aliran jabariyah. Karena memang tidak banyak mereka yang memikirkan kehidupan dunia. ketiga, dari segi kurikulum, Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa pelajaran yang mereka pelajari, lebih terpokus kepada pelajaran agama. Ini memang akibat dari keadaan umat Islam secara menyeluruh di dunia. Karena sebelum abad ke-20, boleh dikatakan masa kemunduran umat Islam. Pada saat itu ilmu-ilmu pengetahuan yang bersifat rasional, filosofis, dan empiris telah ditinggalkan oleh umat Islam setelah jatuhnya Baghdad abad ke-13. Hampir di seluruh dunia Islam mengalami hal yang sama, yaitu mereka tidak peduli dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Mereka melarikan diri ke dunia tasauf. Dengan mendalami tasauf dan tarekat mereka menemukan kedamaian dan ketenangan yang menurut mereka lebih penting dari pada urusan dunia yang sangat banyak tipu muslihatnya. Begitu pula yang dialami oleh umat Islam di Minangkabau pada saat itu. Belum dikenal lmu pengetahuan modern yang baru diperkenankan oleh penjajah pada akhir abad ke-18. Hal ini menyebabkan umat Islam terbelakang dari Barat (Penjajah) dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, karena mereka lebih dulu maju. Kondisi seperti disebutkan di atas, mendorong para reformis Islam melakukan pembaharuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang pendidikan. Abdullah Ahmad dalam hal ini bukan sendirian melakukan pembaharuan, tapi pada waktu yang hampir bersamaan Abdul Karim Amrullah juga melakukan pembaharuan di surau Jembatan Besi. Ketika Abdullah Ahmad berkunjung ke Jawa pada tahun 1917, ia bertemu dengan para tokoh-tokoh pembaharu terkenal di pulau itu seperti ketua PSII (Persatuan Sarikat Islam Indonesia) H. O. S Cokrominoto, dan ketua Muhammadiyah K. H. Ahmad Dahlan. Pengaruh Para tokoh tersebut khususnya K. H. Ahmad Dahlan sangat besar terhadap Abdullah Ahmad, Karena Muhammadiyah adalah suatu organisasi sosial sangat besar pada saat itu.. Ia terkesan dengan sistem pendidikan Muhammadiyah di Jawa di mana siswa-siswi menerima pelajaran dari guru mereka dalam kelas. Ia mulai mengubah garis tradisional sekolahnya dan meniru sistem di Jawa. Awalnya ia membagi para murid dalam tiga tingkat dengan memperkenalkan sistem tiket untuk membedakan siswa tingkat rendah dari yang paling tinggi. Tingkat pertama diberi tiket hijau, tingkat kedua tiket kuning dan tingkat ketiga tiket merah. Setelah sistem tersebut digunakan selama beberapa bulan, sistem ini tetap tidak memuaskan, karena para siswa masih tetap duduk di lantai. Hingga saat itu tetap tidak memiliki meja, kapur dan kapur tulis. Ada murid yang masuk sekolah pemerintah dan ada juga yang sekolah Diniyah, bahkan masih ada yang buta huruf. Ada murid yang telah berumur 10 tahu dan 30 tahun, semuanya dalam satu kelas. Murid-murid masih menghafal semua pelajarannya. Jauh sebelum itu, Abdullah Ahmad yang tidak puas dengan perkembangan Surau Jembatan Besi, dengan cara dan sistem yang berbeda mendirikan sekolah agama di Padang Panjang sekitar tahun 1908. Memang sulit penulis menjelaskan kenapa Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amrullah tidak bersama-sama melakukan pembaharuan dengan sistem yang sama. Tapi mereka justru berusaha mewujudkan visi masing-masing yang sedikit berbeda. Namun yang jelas Abdul Karim Amrullah adalah ulama yang tidak toleran sedikitpun dengan penjajah, maka dari itu ia tidak setuju dengan peniruan Abdullah Ahmad terhadap kurikulum Belanda. Sebaliknya Abdullah Ahmad yang banyak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran seperti Jalaluddin Thaher, kurang setuju dengan Abdul Karim Amrullah yang masih mempertahankan kurikulum agama saja. Ia lebih toleran dengan penjajah dibandingkan Abdul Karim Amrullah yang akan di jelaskan pada bab selanjutnya. 3. Diskriminasi dan Dikotomi Pendidikan Belanda Pemerintah Belanda mulai menjajah Indonesia pada tahun 1619,yaitu ketika Jon Pieter Zoan Coen menduduki Batavia. Kemudian Belanda satu demi satu memperluas jangkauan jajahannya dengan menjatuhkan penguasa-penguasa di daerah-daerah,misalnya setelah berhasil memecah belah kerajaan Mataram setelah wafatnya Sultan Agung. Belanda lalu memberlakukan Semenjak Belanda menjalankan politk etis, maka di Indonesia termasuk di Sumatera Barat, terutama dikota-kotanya telah didirikan berbagai sekolah. Sekolah-sekolah yang didirikan itu terbagi atas tiga sasaran golongan penduduk saat itu; golongan eropah,golongan Timur Asing yang terdiri atas; Cina Arab, India, dan lain-lain, kemudian sekolah untuk golongan bumi putera. Untuk ketiga golongan penduduk itu diberikan sekolah rendah yang terpisah satu sama lain. Sekolah rendah itu disebut HIS (holands Indlansco School), yakni untuk bangsa Indonesia asli. HCS (Holands Chinese) School untuk Timur asing Tionghoa, sedangkan ELS (eropese Legere School) adalah sekolah rendah untuk golongan Erop. HIS adalah sekolah rendah untuk bangsa Indonesia kalangan atas. Untuk rakyat biasa tersedia Sekolah Desa selama tiga tahun dan seterusnya Sekolah sambungan selama dua tahun. Habis masa pendidikan yang lima tahun itu tidak ada sambungannya lagi. Akan tetapi untuk tamatan HIS dapat dilanjutkan ke HBS (Hogere Burger School) atau MULO (Meer Uitgebreid Leger Onderwijs).Baik HIS maupun MULO adalah setaraf SMP sekarang. Bagi yang berhasil menyelesaikan HBS atau Mulo ini masih tersedia jenjang berikut, yaitu AMS (Algemene Middelbare School) yang setaraf dengan SMA sekarang. Untuk tingkatan perguruan tinggi tersedia beberapa sekolah seperti OSVIA, MOSVIA,STOVIA dan lain-lain. Perguruan Tinggi ini hanya ada di Jakarta. Secara teoritis pendirian sekolah-sekolah di atas, memang baik, tetapi dalam pelaksanaannya sekolah-sekolah itu hanya untuk kalangan atas saja, misalnya anak pegawai tinggi Belanda seperti Laras, Demang, dan lain-lain. Mereka disebut bangsa Indonesia Kolonial, denga kata lain jiwanya lebih dekat kepada Belanda dari pada bangsanya sendiri. Apa bila ada pegawai Belanda, tetapi jiwanya lebih dekat kepada bangsanya, maka sukarlah bagi anak-anaknya untuk masuk ke sekolah pemerintah itu. Sedangkan sebagian besar bangsa Indonesia dibiarkan buta huruf atau sekolah hanya sekedar mengenal huruf atau menghafalnama-nama kampung di negeri Belanda,yang seolah-seolah kampung itu sebuah kota metropolitan. Masuk HIS saja sangat sukar bagi kalangan masyarakat bawah, apalagi masuk MULO atau HBS, begitu juga untuk masuk AMS dan STOVIA dan seterusnya. Sesungguhnya pelaksanaan memperoleh kesempatan pendidikan yang demikian tidak perlu diherankan, karena Belanda adalah penjajah. Memberi pendidikan kepada anak-anak jajahan sama saja memberikan pisau kepada mereka. Hal ini sangat disadari pihak yang bersangkutan. Oleh sebab itu sesuai dengan paham liberal yang sedang bangkit di Eropa, maka pelaksanaannya dibuat sedemikian rupa, sehingga anak bumi putera yang dididik itu dapat ikut memutar roda pemerintah Kolonial dan ini memang sangat mendesak. Menjelang berakhirnya abad ke-19 atau awal abad ke-20 keadaan Indonesia boleh dikatakan sudah aman, walaupun masih ada sisa perang seperti perang Aceh (1879-1904),namun ibarat kebakaran yang tinggal hanya asap nya saja lagi. Dengan demikian pemerintah Belanda memerlukan pemerintahan yang berjalan secara lancar dan efisien, sehingga segala sektor kehidupan terutama ekonomi berjalan lancar pula. Lancarnya ekonomi dapat menguras kekayaan Indonesia secara legal melalui pertambangan, perkebunan, perdagangan dan lain- lain. Jadi, jelas bahwa pelaksanaan polotik etis di bidang pendidikan itu hanyalah untuk menjaga kelestarian penjajah di Indonesia. Kalau ternyata ada di kemudian hari di antara hasil pendidikan yang demikian itu melahirkan para nasionalis yang mengubah taktik perjuangan dari senjata kepada organisasi, hal tersebut adalah di luar perhitungan Belanda. Situasi pendidikan di atas, sesuai dengan pribahasa orang Minangkabau: “Kilek baliung lah ka kaki, kilek camin lah ka muko”. Maksudnya pendidikan yang diberikan Belanda itu tidak untuk mencerdaskan bangsa Indonesia, tetapi untuk mencetak pegawai-pegawai pemerintah atau swasta Belanda. Sehubungan dengan itu timbullah kesadaran beberapa ulama dan cerdik pandai di kota padang untuk mengubah hal itu. Tapi tidak dengan terang-terangan, karena akan bertarung dengan peraturan yang ada. Berdirinya sekolah-sekolah Belanda diakui banyak dampak positifnya bagi umat Islam, namun perlu dicatat bahwa sekolah-sekolah yang mereka dirikan bukan untuk kemajuan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Disamping iru sekolah-sekolah tersebut mengandung kelemahan-kelemahan yang bila diterapkan untuk umat Islam secara utuh akan menggeser nilai-nilai Islam, karena sekolah-sekolah tersebut anti agama. Kondisi sekolah Belanda sebagaimana dijelaskan di atas, mendorong ulama atau para tokoh umat Islam untuk melakukan pembaharuan. Khusus Abdullah Ahmad adalah ulama yang sangat banyak menuangkan pikirannya tentang masalah ini. Ia mulai dengan merubah pola pikir umat dengan tulisan-tulisannya kemudian dia aplikasikan dengan mendirikan lembaga pendidikan yang sangat modern pada saat itu. yaitu Adabiyah School. 4. Pemikiran beberapa tokoh pembaharu Dalam membicarakan faktor-faktor yang melatarbelakangi pembaharuan Abdullah Ahmad, khususnya dalam bidang pendidikan. Di sini perlu juga dibicarakan orang-orang yang berpengaruh terhadap pola pikir Abdullah Ahmad, Amir Syarifuddin menyebutkan beberapa ulama yang sangat mempengaruhi Abdullah Ahmad, yaitu Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Thaher Jalaluddin, kemudian ulama-ulama yang seangkatan dengan Abdullah Ahmad. Abdullah Ahmad banyak dipengaruhi oleh Syekh Ahmad Khatib dalam bidang ijtihad, kebebasan berpikir ini diperoleh Abdullah Ahmad ketika beliau memberi kebebasan kepada muridnya untuk tidak hanya taqlid kepada satu mazhab,yaitu mazhab Syafi’i. Masalah politik anti penjajah dan sikap Abdullah Ahmad terhadap tarekat dan pembagian harta warisan merupakan pengaruh yang sangat besar dari Ahmad Khatib. Sedangkan Syekh Thaher Jalaluddin banyak mempengaruhi Abdullah Ahmad dalam bidang pembaharuan pendidikan. Syekh Thaher Jalaluddin yang masih ada hubungan darah dengan Ahmad Khatib berbeda dengan kakanya, karena ia di samping belajar di Mekkah ia juga melanjutkan pendidikannya ke Mesir selama tiga tahun, dan beberapa tahun setelah ia menetap di Mekkah membantu Ahmad Khatib ia pergi ke Semenanjung Tanah Melayu dan menetap di sana. Pada tahun 1906 ia menerbitkan majalah al-Imam di singapura. Di dalam majalah inilah ia menuliskan pemikiran, pendirian dan paham-pahamnya tentang agama. Pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh Syekh Thaher Jalaluddin di sekolah al-Iqbal al-Islamiyyah dan menerbitkan majalah Al-Imam adalah Faktor penting yang mempengaruhi Abdullah Ahmad. Sekolah ini dijadikan model oleh Abdullah Ahmad pada waktu ia mendirikan Perguruan Adabiyah di Padang. Demikian pula majalah Al-Imam yang diterbitkan oleh Syekh Thaher Jalaluddin, dalam banyak hal ditiru oleh Abdullah Ahmad pada waktu ia mendirikan majalah Al-Munir di Padang pada tahun 1911. Pendapat Muhammad Abduh yang dimuat dalam majalah al-Manar sering dikutip oleh Syekh Thaher Jalaluddin. Maka pengaruh Jamaluddin Al-Afghaniy, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha terhadap pemikirannya kelihatan benar dalam majalah al-Imam. Sejak nomor perdana ia telah mempromosikan al-‘urwattu al-Wutsqa dan al-Manar. Pahamnya lebih tegas dari Ahmad Khatib, hubungannya dengan Rasyid Ridha sangat akrab, ia telah menjadi langganan al-Manar sejak mula terbitnya. Rasyid Ridha pernah berkunjung ke rumahnya ketika ia menetap di Mesir. Majalah al-Imam tersebar sampai ke Minangkabau melalui Abdullah Ahmad. Abdullah Ahmad menyerap pemikiran Jamaluddin, Muhammad Abduh, dan Ridha melalui majalah tersebut. Demikian pula tokoh-tokoh pembaharu yang seangkatan dengannya di Minangkabau. Di antara pemikiran Muhammad Abduh yang mereka baca adalah bahwa untuk memperbaiki nasib umat Islam harus di mulai dengan memperbaiki sistem pendidikan Islam. Itulah sebabnya Muhammad Abduh bertekad untuk memperbaiki sistem pendidikan di al-azhar. Akar pembaharuan Abdullah Ahmad adalah dibawa oleh Muhammad Abduh melalui murid-muridnya, termasuk Syekh Thaher Jalaluddin dan denganmenerbitkan al-Manar. Maka di sini jelaslah bahwa Abdullah Ahmad menerima pembaharuan Muhammad Abduh melalui perantaraan Syekh Thaher Jalaluddin, baik secara langsung ia belajar dengannya atau melalui majalah al-Imam yang diterbitkan oleh Syekh Thaher Jalaluddn. C. Aspek-aspek Pembaharuan pendidikan Abdullah Ahmad Ide-ide pembaharuan pendidkan yang dikemukakan oleh Abdullah Ahmad meliputi beberapa Aspek penting di antaranya aalah: 1. Aspek Kelembagaan. Salah satu ide pembaharuan pendidikan yang dibawa oleh Abdullah Ahmad adalah di bidang kelembagaan atau institusi pendidkan. Sebagaiman di jelaskan di atas, bahwa Abdullah Ahmad mendirikan Sekolah Adabiah. Untuk mendirikan sekolah ini ia menghubungi beberapa orang yang sudah memiliki pendidikan guru, seperti guru Thaib Sutan Pamuncak dan Guru Karim serta beberap orang lagi di Bukittinggi. Sementara itu yang beliau hubungi di kalangan ulama, di antaranya adalah H. Karim Amrullah, Zainuddin Labay dan lain-lain. Keduanya adalah tokoh ulama di Minangkabau. Sekolah yang didirikan ini sebagaimana telah disinggung sebelumnya menggunakan berbagai fasilitas sebagaimana halnya yang didirikan oleh pemerintah Belanda, yaitu memakai meja, kursi, papan tulis dan alat kegiatan belajar mengajar lainnya. Untuk mendukung kegiatan lembaga ini, Abdullah Ahmad merekrut para pegawai yang berjiwa kebangsaan, yaitu mereka yang memiliki legalitas terhadap pemerintah Belanda dengan tujuan untuk menghilangkan pemerintah Belanda. Sejalan dengan perkembangan selanjutnya, pada tahun 1915 corak pendidikan Adabiyah diubah menjadi corak Hollands Maleische School (HMS) atau Hollands Inlandsche School (HIS) yaitu tingkat pendidikan setara dengan Sekolah Dasar (SD) seperti yang ada sekarang. Kecuali di dalamnya di ajarkan pelajaran agama dan Al-Qur’an sebagai mata pelajaran wajib, juga di ajarkan pengetahuan umum, inilah yang membedakan dengan HIS yang diselenggarakan Belanda dengan HIS yang dilaksanakan Abdullah Ahmad di Sumatera Barat. Pendirian lembaga ini didasari untuk merubah pola pikir masyarakat yang keliru terhadap Islam yang sering mempertentangkan antara agama dan kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya kemajuan Barat pada saat itu. Dalam hal ini Abdullah mengatakan dalam acara pembukaan sekolah tersebut, katanya bahwa masih banyak diperoleh di antara masyarakat Indonesia pemikiran yang keliru, misalnya menganggap agama Islam tidak sesuai dengan perkembangan sekolah-sekolah atau menganggap Islam menghambat kemajuan Islam Dalam acara pembukaan tersebut Abdullah Ahmad berpidato Panjang lebar tentang Islam, dalam hal ini berkaitan dengan pendirian lembaga pendidikan yang terasa aneh pada saat itu, karena belum ada sekolah atau lembaga pendidikan Islam yang melakukan pembaharuan sebelumnya. Tema-tema penting dalam pidatonya tersebut meliputi makna kemajuan dalam Islam, dan dasar atau tiang dari kemajuan itu. Maka pembicaraan tentang manusia yang berbeda dengan makhluk lainnya menjadi awal pembicaraan pada acara pembukaan sekolah tersebut. Dalam pidato itu ia menyampaikan ciri khas manusia dibanding hewan atau Binatang, katanya: “Manusia itu pandai berpikir tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, berpikir tentang yang bermanfaat untuk dirinya dan tanah air. Serta bersedia menerima dan mempercayai apa saja yang disampaikan nabi, dan apa yang diperintahkan rasul dari Allah. Itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Yang telah disiarkan oleh buku-buku sejarah dari masa lalu yang telah berabad-abad lamanya hingga telah dirasai oleh mereka yang telah memiliki perasaan” Karena kemampuan berpikir itu manusia menurut Abdullah Ahmad dalam pidatonya itu, harus selalu berusaha untuk melakukan kemajuan, karena kemajuan itu adalah sebuah kewajiban dan kemestian. Manusia harus hidup beragama dan hidup berusaha untuk kesempurnaan , keselamatan dan kemuliaan. Atau yang disebut dengan hidup berarti. Hidup yang berarti menurut Abdullah Ahmad adalah manusia yang menghargai waktu muda, sehat, dan waktu kayanya, orang yang menyia-nyiakan waktu muda, kesehatan, dan harta akan menyesal. Dalam pidatonya itu Abdullah Ahmad mengutip Hadits yang artinya: “bekerjalah untuk duniamu seolah-oleh kamu akan hidup selamanya, tetapi bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok hari.” Semangat kemajuan itulah yang dikobarkan kepada hadirin yang hadir pada saat itu, Abdullah Ahmad mendorong orang untuk bekerja keras untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Abdullah Ahmad menganjurkan kepada umat untuk selalu memperhatikan aspek kehidupan dunia dan akhirat secara bersamaan, tanpa mengabaikan salah satu dari keduanya, kemudian beliau mengutip sebuah hadits yang artinya: “ Tidaklah baik mereka yang mengambil ini dan meninggalkan itu, sebaik-baik kamu adalah mereka yang mengambil ini dan itu” Maksud hadits ini menurut Abdullah Ahmad adalah tidak baik umat Islam mengambil atau berpihak kepada dunia saja, kemudian melupakan akhirat, dan begitu pula sebaliknya. Secara tidak langsung Abdullah Ahmad memberikan penjelasan kepada umat pada saat itu betapa pentingnya ilmu-ilmu pengetahuan modern seperti yang dilakukan orang Barat Pada saat itu melalui sekolah-sekolah Belanda. Karena menurut Abdullah Ahmad kemajuan agama sangat bergantung kepada kemajuan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan tersebut. Dengan adanya perubahan tersebut, Adabiyah School mendapatkan subsidi dari pemerintah Kolonial, yaitu berupa dana dan tenaga guru sebanyak tiga orang Belanda, seorang sebagai kepal sekolah sedangkan yang dua lagi sebagai guru biasa. Pada perkembangan selanjutnya, jenjang pendidikan sekolah ini bertambah dengan berdirinya Taman Kanak-kanak (TK). Namun sayang, pada zaman penjajahan Jepang sekolah TK ini dibubarkan. Sedangkan jenjang pendidikan lainnya seperti SD, SMP, dan SMA tetap dipertahankan, bahkan ditambah dengan sekolah Tinggi Administrasi Islam (STAI), serta laboratorium Komputer. Kemodernan lembaga pendidikan Adabiyah juga ditandai dengan adanya sikap keterbukaan dalam membolehkan siswa yang berasal dari berbagai golongan untuk belajar di sekolah tersebut dengan syarat beragama Islam. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan sekolah yang didirikan oleh pemerintah Belanda yang sangat deskriminatif dalam menerima para siswa yang boleh belajar di sekolah tersebut. Keberadaan lembaga pendidikan Adabiyah ini telah banyak menarik perhatian kalangan para peneliti baik yang Islam maupun non Islam. Lothrop Stoddard misalnya mengatakan bahwa lembaga pendidikan HIS Adabiyah merupakan starting point (babak baru) dalam pembaharuan pendidikan yang mempengaruhi berdirinya lembaga pendidikan Islam modern yang tidak hanya terbatas pada tingkat sekolah dasar, tetapi juga tingkat menengah atas sampai tingkat tinggi dengan berbagai nama. Ciri kemodernan lain dari lembaga pendidikan Adabiyah School adalah karena terpilihnya guru-guru yang berbobot, setara dengan bobot para guru yang mengajar di sekolah Adabiyah. Dua ketentuan yang ditetapkan pihak lembaga pendidikan ini adalah,agar para guru yang diterima mengajar di sini memiliki kemampuan dalam memberikan ilmu pengetahuan yang kurikulumnya sama dengan kurikulum sekolah stingkat Belanda. Dengan demikian, diharapkan para siswa lulusan HIS Adabiyah sama dengan siswa lulusan HIS yang didirikan Pemerintah Belanda. Selain itu para guru Adabiyah School juga seorang idealis, penuh cita-cita untuk kemajuan bangsa yang terjajah. 2. Aspek Kurikulum Suasana pendidikan Islam di Minangkabau pada masa sebelumnya berjalan dengan sangat sederhana dan berjalan apa adanya, tidak mempunyai kelas, tanpa bangku, tanpa papan tulis, dan tanpa kurikulum. Kurikulum yang penting adalah pengajian Al-Qur’an untuk anak-anak yang sudah berusia tujuh tahun yang umumnya mereka tidur di surau-surau. Di samping pelajaran membaca Al-Qur’an adalah ibadah praktis seperti berwudhuk, salat, pelajaran keimanan (sifat dua puluh),dan pelajaran akhlak (melalui cerita-cerita). Lama waktu pengajian pun tidak ditentukan. Biasanya dua sampai lima tahun menurut kecerdasan dan kerajinan anak-anak. Kurikulum lanjutan dari pengajian di surau ditambah dengan pelajaran tajwid, qashidah, berzanji, dan mempelajari kitab perukunan. Sesudah tahun 1900 terjadi perubahan kurikulum oleh para ulama-ulama pembaharu. Ilmu-ilmu yang diajarkan pada madrasah-madrasah menjadi 12 macam. Tetapi masih berkisar pada ilmu-ilmu agama atau ilmu alat untuk mendalami agama. Di antara ilmu-ilmu yang dua belas tersebut memang ada yang membuka daya kritis seperti ilmu Mantiq (Logika), ilmu Musthalahah Hadis, ilmu UshulFiqh, ilmu Ma’ani, ilmu Bayan, ilmu Badi’. Sedangkan ilmu-ilmu yang enam lagi, ilmu Nahu, ilmu Sharf, ilmu Fiqh, ilmuTafsir, ilmu Tauhid dan ilmu Hadis, Sebagian besar sudah di ajarkan pada masa kurikulum lama. Ulama-ulama pembaharu memasukkan dan menambahkan ke dalam kurikulum madrasah supaya anak-didik terlatih berpkir kritis. Kurkulum HIS Adabiyah dalam pengetahuan umum tentu tidak berbeda dengan kurikulum HIS yang didirikan oleh pemerintah Belanda. Seperti yang sudah dijelaskan sebelum ini, HIS Adabiyah merupakan HIS yang pertama yang memasukkan pelajaran agama ke dalam kurikulumnya. Abdullah Ahmad kata Amir Syahruddin telah mempertemukan kedua kurikulum yang selama ini engalami dikotomi antara kurikulum madrasah dan kurikulum seklah-sekolah umum yang muncul di Minagkabau sesudah madrasah. 3. Aspek Metode Pengajaran Metode debating club termasuk metode yang diterapkan oleh Abdullah Ahmad. Metode yang sekarang dikenal dengan metode diskusi merupakan metode yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada murid-murid untuk bertanya dan berdialog secara terbuka tentang berbagai hal yang menyangkut masalah agama yang pada saat itu dianggap sangat tabu dan kurang dianggap beradab. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengubah cara lama yang menempatkan para siswa secara pasif dan kurang diberikan kebebasan, sementara waktu lebih banyak dipergunakan oleh guru. Menurut Abdullah Ahmad, bahwa manusia dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya mengalami taraf pemikiran yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Berpikir secara logis tidak dapat dicapai oleh manusia secara alamiah, melainkan harus ditumbuhkan dan dilatih melalui serangkaian latihan yang dilakukan sejak kecil secara kontiniu. Sejalan dengan itu, maka para pendidik hendaknya memperhatikan taraf pemikiran anak, sehingga bahan pelajaran yang diberikan dapat dicerna dan diterima anak didik dengan baik. Hal inilah yang diterapkan oleh Abdullah Ahmad. Selanjutnya Abdullah Ahmad mengatakan bahwa banyaknya anak didik yang merasa takut mempelajari agama dikarenakan yang mereka dapati dari belajar agama pada waktu itu hanyalah tentang surga dan neraka beserta siksa neraka yang akan diterima oleh mereka yang melanggar syari’at agama. Hal ini menurut Abdullah Ahmad perlu diimbangi dengan pendidikan yang menumbuh kembangkan benih dan bakat kebaikan yang dimiliki oleh anak didik Ini dapat dilakukan melalui perilaku dan suri teladan yang baik yang harus merek tunjukkan pada setiap kesempatan, sehingga anak didik termotivasi untuk mempelajari agama yang bertolak dari kesadarannya sendiri. Menurut Abdullah Ahmad, metode suri teladan ini sangat efektif diterapkan dalam menanamkan akhlak yang mulia pada diri anak. Selain itu, Abdullah Ahmad mengajukan metode pemberian hadiah dan hukuman sebagaimana yang berkembang saat ini. Menurutnya, bahwa pujian perlu diberikan guru bila anak didiknya memiliki akhlak mulia, dan jika perlu anak itu diberikan hadiah untuk menyenangkan hatinya. Bersamaan dengan itu, hukuman juga perlu diberikan bila anak bersikap sebaliknya. Namun demikian, hukuman tersebut tidak perlu diberikan secara kasar, karena hukuman semacam itu dapat menghilangkan keberanian yang ada pada diri anak didik. Metode lain yang perlu diterapkan menurut Abdullah Ahmad adalah metode bermain dan rekreasi. Menurutnya bahwa anak-anak perlu diberi waktu untuk bermain dan bersenang-senang serta beristirahat dalam proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Karena jika tidak ada waktu untuk beristirahat, dapat merusak perilaku anak yang semula baik, karena bosan dengan kegiatan yang banyak menguras daya pikirnya. Akibat lainnya, hatinya akan mati, pemahamannya terhadap bahan pelajaran yang diberikan akan tumpul serta cahaya akalnya akan padam, sehingga anak didik bisa menunggalakan pelajaran agamanya sama sekali. Pemikiran Abdullah Ahmad dalam bidang metode pengajaran tersebut telah membangkitkan perhatian dari berbagai kalangan. Ada yang menanggapi secara positif dan ada pula yang negatif. Namun yang pasti, adanya persaingan di antara para ilmuwan muslim pada saat itu membuka cara baru bagi kemajuan berkompetisi untuk sama-sama memajukan dan meningkatkan kualitas umat Islam. 4. Pendidik dan Peserta Didik Hal lain yang mendapat perhatian dari Abdullah Ahmad dan Syarikat Oesaha Adabiyah adalah masalah guru. Guru-guru yang mengajar di sekolah Adabiyah harus memenuhi beberapa syarat. Di antaranya adalah: Kemampuan memberikan ilmu pengetahuan yang kurikulumnya sama dengan kurikulum sekolah setingkat untuk Belanda. Dengan demikian diharapkan siswa yang lepas dari HIS Adabiyah sama dengan ELS, sekolah rendah khusus untuk anak-anak Belanda. Hal lai yang dapat perhatian dari Syarikat Oesaha Adabiyah adalah bahwa yang menentukan tenaga pengajar adalah yang bersangkutan harus berjiwa kebangsaan. Guru HIS Adabiyah mestilah orang memiliki idealisme, seorang memiliki cita-cita kebangunan bangsanya yang terjajah. Adapun pelajaran Agama langsung diberikan leh Abdullah Ahmad, sedangkan mata pelajaran lain diberikan oleh guru-guru pilihan yang memenuhi syarat-syarat tersebut di atas. Di antara guru yang memenuhi syarat tersebut di atas adalah: Rusat St. Perpatih ayah dari laili Rusad yakni wanita pertama di Indonesia yang menjadi duta besar setelah Indonesia merdeka. Abdullah St Bandaro Panjang ayah dari Sumatri Abdullah direktris SMP, kemudian SMA Adabiyah, Rustam Efendi Amaluddin St Tumenggung dan Majid Sidi Sutan. Dengan komposisi staf pengajar seperti disebutkan di atas dapat dipastikan masyarakat akan menyambut kehadiran Perguruan Adabiyah dengan penuh kegembiraan. Langkah Syarikat Oesaha dalam melakukan penyeleksian secara ketat merupakan langkah yang sangat penting dalam pengembangan lembaga tersebut, karena guru merupakan komponen penting dalam perbaikan mutu pendidikan. Masyarakat kota Padang dikenal taat beragama, mereka dengan senang hati menyerahkan putra-putrinya ke Adabiyah School dengan harapan anak-anaknya akan menjadi anak-anak yang berilmu pengetahuan dan akan menjadi anak yang beradab (shaleh). Kesadaran berbangsa membangkitkan kesadaran bernegara dan menumbuhkan semangat kebangsaan. Masyarakat yang sedang tumbuh semangat nasionalismenya tentu dengan senang hati menyerahkan anak-anaknya ke Perguruan Adabiyah dengan harapan putra-putrinya akan menjadi pejuang dan pahlawan kelak, setelah mereka dewasa. Dengan demikian Murid-murid Adabiyah terdiri dari anak-anak pribumi yang tidak diterima pada HIS pemerintah, oleh karena itu perguruan Adabiyah dari tahun ke tahun kebanjiran murid-murid. Dengan berdirinya HIS Adabiyah mulailah pemerataan dalam bidag pendidikan. Cita-cita mendirikan perguruan untuk mencerdaskan bangsa, bukan untuk mencetak pegawai rendahan, ketidak adilan dan tidak adanya pemerataan dalam pelaksanaan pendidikan kolonial dirasakan di seluruh Indonesia. Suasana Pendidikan di Indonesia pada zaman Kolonial Belanda yang masih berputar pada penerimaan murid-murid yang berasal dari anak priyayi dan orang kaya, sangat erat kaitannya dengan gerakan pembaharuan di negeri ini dengan majalah al-Munir dan perguruan Adabiyah. Maka berdirinya HIS Adabiyah adalah salah satu upaya untuk mendapatkan keadilan dalam bidang pendidikan untuk penduduk pribumi. Sekolah merupakan sarana untuk mempersiapkan anak-anak agar bisa menunaikan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, sebagai perorangan, dan sebagai warga negara serta sebagai masyarakat dengan menjalankan suatu pekerjaan sebagai pengabdian kepada masyarakat dan bangsa. Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi memerlukan pendidikan. Melalui pendidikan ia dibina supaya berhasil menjalankan tugas dan tujuan hidupnya. Dengan pendidikan segala profesi, fitrah, dan kemauan bebasnya dibimbing dan dikembangkan. Dalam pandangan Islam Manusia adalah khalifah di muka bumi dan memerlukan pendidikan. Jadi segala usaha membentuk manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, itulah pendidikan. Abdullah Ahmad merasakan bahwa politik pendidikan Kolonial belum sepenuhnya membimbing dan mengembangkan potensi anak-anak. Kebutuhan jiwa anak kepada pegangan, tuntunan dan pedoman hidup belum terpenuhi. Pertumbuhan rohaninya lamban, karena yang diajarkan sebagian besar pelajaran umum, sedangkan jiwanya kosong dari pendidikan agama. Kesimpulan Latar belakang pembaharuan Abdullah Ahmad dan Zainuddin Labay tidaklah jauh berbeda, pertama, Pengalaman beragama masyarakat Minangkabau sebagian besar di anggap telah keluar dari sumber ajaran pokok Islam, Al-Qur'an dan Hadits, seperti tahayyul, khurafat dan bid'ah. Kedua, Kondisi pendidikan Islam yang masih memprihatinkan dalam berbagai aspek, ketiga, di saat yang bersamaan pemerintah Belanda mempertontonkan sistem pendidikan modern, yang hampir belum dikenal oleh umat Islam sebelumnya pada saat itu. Keempat, Sebagai individu yang berbeda mereka juga mendapat pengaruh dari orang yang dekat dengan mereka. Dalam hal ini agak tanpak perbedaan kedua tokoh ini, Abdullah Ahmad langsung dipengaruhi oleh ulama-ulama dari Mesir karena ia pernah langsung pergi ke Mesir. Sedangkan Zainuddin Labay sekalipun banyak dipengaruhi oleh ulama-ulama Mesir, seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan Musta Kamil., namun pengaruh itu didapati dari buku-buku dan majalah serta guru-gurunya yang belajar di Timur Tengah. Aspek-aspek pembaharuan Abdullah Ahmad dan Zainuddi Labay juga memiliki kesamaan; menerbitkan majalah keagamaan, mendirikan lembaga pendidikan modern, memperbaharui visi dan misi pendidikan Islam, dan memperkaya metode pengajaran. Namun dalam hal tertentu mereka tidaklah sama, seperti perubahan majalah Al-Munir menjadi Munir Al-Manar, menerima subsidi dari pemerintah Belanda, presentase kurikulum agama dan kurikulum umum dan organisasi-organisasi yang mendukung pembaharuan pendidikan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mereka adalah ulama yang punya ciri khas dan idealis masing-masing. Respon Masyarakat (Kaum Tua dan kaum Muda) terhadap pembaharuan Abdullah Ahmad dan Zainuddin Labay hampir tidak ada perbedaan. Namun dalam bidang pendidikan Zainuddin lebih banyak diikuti, karena berdirinya Madrasah Diniyah hampir sama dengan Diniyah School. Respon pemerintah Belanda terhadap pembaharuan mereka juga hampir sama, karena pemerintah mengkhawatirkan perkembangan pemikiran siswa-siswa yang telah didik dengan agama dan ilmu pengetahuan modern dan melahirkan anak-anak muda yang anti penjajah, dan ini sangat mengancam stabilitas pemerintah Belanda di Minangkabau 1. Perbandingan pembaharuan kedua tokoh tersebut dapat dilihat dari tabel berikut: Saran-Saran Banyak aspek yang perlu didalami dari kedua tokoh ini. Walaupun penelitian ini bukanlah yang pertama, diharapkan pula bukan yang terakhir dari sebuah pencarian dan pendalaman khazanah keilmuan yang dapat dilihat dari berbagai aspek yang lain tentang kiprah mereka dalam pembaharuan Islam di Minangkabau pada awal abad XX, karena penelitian hanya dari aspek pendidikan saja. Meskipun gagasan mereka lahir sebagai respon terhadap kondisi pendidikan pada awal abad XX, akan tetapi hasil ijtihad mereka merupakan awal dari mata rantai yang panjang bagi usaha rekonstruksi sistem pendidikan yang ideal pada masa-masa berikutnya. Sudah saatnya seluruh komponen pendidikan melakukan evaluasi internal seluruh sistem pendidikan. Sistem pendidikan Nasional yang sudah mengacu kepada pendidikan yang integral dengan memperhatikan daerah masing-masing, setidaknya menjadi momen untuk mengembalikan masyarakat Minangkabau kepada masyarakat yang beradat dan beragama sebagaimana harapan semua orang. Membangun masyarakat Minangkabau hanya dapat dilakukan dengan membangun dan memperbaiki sistem pendidikan yang berbasis agama dan budaya lokal. Tesis ini bisa menjadi bukti sejarah keberanian para ulama masa lalu untuk melakukan pembaharuan pendidikan Islam pada awal abad XX Daftar Kepustakaan Ahmad, Abdullah, Al-Munir, Jilid I, Juz VII, Padang, 27 Juni 1911 ----------------------, Al-Munir, Jilid V, Juz XIII,Jum’at 25 Agustus 1915 Amirsyahruddin, Integrasi Imtaq dan Iptek dalam Pandangan DR. H. Abdullah Ahmad, (Padang: Syamza Offset, 1999) Azra, Azyumardi, Islam Reformis Dinamika Intelektual dan Gerakan, (Jakarta: Rajawali Press,1999) ------------------------, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasimenuju Milenium Baru, (Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 1999) Alfian, T. Ibrahim, Sejarah dan permasalahan masa kini (Pidato pengukuhan Jabatan guru Besar Pada Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, Yogyakarta,12 Agustus 1985) Aminuddin Rasyad, et. Al, Hajjah Rahmah el-Yunusiyah dan Zainuddin Labay el-Yunusi: Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Pendidikan Islam di Indonesia, (Pengurus Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang Perwakilan Jakarta,1991) Asyraf, Ali, Horison Baru Pendidikan Islam, Terj. Sori Siregar, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1989), h.85-86 Achmadi, IslamSebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 1992) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), cet.ke-3,h.82 Djamal, Murni, DR. H. Abdul KarimAmrullah: Pengaruhnya dalam Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau pada awal abad ke-20, (Jakarta: INIS Leden, 2002) Daya, Burhanuddin, Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalb, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990) Edward (ed), Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, (Padang: Islamic Centre Sumatera Barat, 1981) Goltschalk, Louis, Undersanding History, A Primary of Hisrorical Method, (Alfre & Knoph,New York) Graves, Elizabeth, The Minangkabau Response to the Dutch Kolonial Rule in the Ninetenth Century,(New York:Conel University, 1981) Hamka, Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul KarimAmrullah dan Perjuangan Kaum Agama, (Jakarta: Penerbit Wijaya,1967), -----------, Muhammadiyah di Minangkabau,(Jakarta:Yayasan Nurul Islam, 1974) Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hemeneutik, (Jakarta: Paramadina, 1996) Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam Di Indonesia Abad Ke-19, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984) ----------------------, Pesantren Madrsah Sekolah; Pendidikan Islam dalam Kurun Modrn :LP3ES, 1991) Koenjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramidia, 1989) Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah,(Yogyakarta: Benteng, 1995) Karlinger, Fred N. Fondation af Behavioral Reserch, Holt Renehartand Winston, (Inc, New York, 1973) Langgulung,Hasan, Asas-asa Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988) Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999) Muqim, Zul, Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia Pada Abad XX: Refleksi Pemikiran Abdul KarimAmrullah, (Padang: Baitul Hikmah Press, 2002) Murni Djamal, DR. H. Abdul KarimAmrullah: Pengaruhnya dalam Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau pada awal abad ke-20, (Jakarta: INIS Leden, 2002) Nata, Abuddin (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT.Gramedia Widiasarana Indonesia, 2001) Nizar, Syamsul, Rekonstruksi Pendidikan Islam Menurut Hamka: Refleksi Pemikiran Hamka terhadap Pola Pendidikan Islam Awal Abad XX, Laporan Penelitian tidak diterbitkan, (Padang: IAIN Imam Bonjol, 1999/2000) Noer,Deliar, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES,1980) Panitia HUT Adabiyah, 65 Tahun Adabiyah, (Padang: Adabiyah,1985) S. Nasution, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995) Schrieke, Pergolakan Agama di Sumatera Barat, terjemahan Taufik Abdullah (ed) (Jakarta: Bharata,1973) Sudirman N, Ilmu Pendidikan, (Bandung:Remaja Rosdakarya,1978) Shaliba, Jamil, al-Mu’jam al-Falasafi I,(Beirut:Dar al-Kitab al-Lubnani, 1978),h. 266. Syamsuddin, Fachri, Pembaharuan Islam di Minangkabau Awal Abd XX, Disertasi, Tidak diterbitkan, (Padang: IAIN Imam Bonjol,2004) Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: Rmaja Rosdakarya, 1997) Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid V, (Jakarta: PT. IchtiarBaru Van Hoeve, 2003) Tamar Jaya , Pustaka Indonesia, (Jakata: Bulan Bintang, 1965) Tim Penulis, Metodologi Pengajaran Agama, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah Semarang bekerja sama dengan Pustaka Pelajar, 1999) Wijoyo, Kunto, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1994) Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Mahmudiyah,1960) Yusri, Muhapril, Zainuddin Labay El-Yunusi dan Pembaharuan Pendidikan Islam diMinangkabau awalabad XX, Tesis Program Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang, 2001. Zainuddin Labay el-Yunusi, Adab Al-Fatah. (Padang Panjang: Badezt,1915) ------------, al-‘Aqaid al-Diniyyah 1-2, (Padang Panjang: Badezt, 1924) -----------, Durus al-Fiqhiyyah, 1-3, (Padang Panjang: Tandikat, 1937) ------------, Mabadi’ al-‘Arabiyah 1-2, (Ford de kock,1932) ------------, Mabadi’al-Awwaliyyah,(Padang Panjang: tt) ------------, Irsyad al-Murid ila ‘ilm al-Tajwid, (Padang Panjang: Sa’adiyah, 1951) ------------, Empat Serangkai 1-4, (Padang Panjang: Badezt, 1930) ------------,Tunas Diniyyah,(Padang Panjang: Badezt, 1922) ------------, Tajwid al-Qur’an, (Padang Panjang: Badezt, 1929)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar