Selasa, 19 Oktober 2010

Pendekatan dan Metode Pembelajaran Dalam Perspektif Islam


“Pendekatan dan Metode Pembelajaran Dalam Perspektif Islam”
Oleh: Charles, M.Pd.I
(Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Jurusan Tarbiyah STAIN Bukittinggi)

A.    Pendahuluan
Dalam berbagai pembicaraan antar sesama guru sering dikatakan, contohnya: sebenarnya anak itu pandai tapi dia pemalas, peribut, suka mengganggu teman dan sebagainya atau seperti belakangan ini anak itu tidak bisa belajar dengan baik” ungkapan di atas menggambarkan bahwa guru atau pendidik dalam menjalankan tugasnya tidak hanya bertugas mengajar atau mentransformasi pengetahuannya kepada peserta didik sebanyak-banyaknya  dan tidak juga sekedar memberikan keterampilan, tetapi ada tugas-tugas lain bersifat psikologis, pedagogik dan religious dalam mendidik peserta didik, seperti internalisasi nilai-nilai ke dalam diri peserta didik sehingga dia memiliki kesiapan mental untuk melakukan tugas belajarnya dengan senang hati dan memiliki motivasi tinggi dalam usaha merubah dirinya kea rah yang lebih baik.
Secara fungsional Pendidik atau guru adalah orang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman dan sebagainya. Oleh sebab itu pendidik atau guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik. Maka tugas seorang pendidik atau guru adalah: pertama, sebagai orang yang mengkomunikasikan pengetahuannya. Kedua, sebagai model, yaitu dalam bidang studi yang diajarkannya merupakan sesuatu yang berguna dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga guru tersebut menjadi model atau contoh nyata dari mata pelajaran yang diajarkannya. Dan ketiga guru sebagai model sebagai pribadi, apakah ia berdisiplin, cermat berpikir, mencintai pelajarannya atau mematikan idealismenya  dan picik dalam pandangannya.
Dalam perspektif Islam Pendidik –apapun bidang studinya- harus memiliki kemampuan untuk melakukan bimbingan dan dorongan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi diri, sehingga potensi itu mencapai batas kesempurnaan atau kedewasaan. Oleh sebab itu guru harus memiliki, berbagai pendekatan, strategi, metode, teknik, dan tak tik dalam mengajar. Dan gabungan dari semua ini disebut dengan Model Pembelajaran.[1]
Kedudukan guru dalam pandangan agama sangat agung dan terhormat, sperti yang dikemukakan oleh seorang penyair  Mesir zaman modern: “berdirilah kamu bagi seorang guru dan hormatilah dia, seorang guru itu hampir mendekati kedudkan seorang rasul[2]. Al-Gazali juga menjelaskan kedudukan guru, menurutnya, seorang sarjana yang bekerja mengamalkan ilmunya adalah lebih baik dari pada seorang yang hanya beribadat saja, seperti sholat dan puasa saja.[3]  Lebih lanjut Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi dalam bukunya  menyebutkan, bahwa seseorang yang berilmu dan kemudian ia mengamalkan ilmunya, maka orang itulah yang dinamakan orang yang berjasa besar di kolong langit ini. Orang tersebut bagaikan matahari yang menyinari orang lain dan menerangi dirinya sendiri, ibarat minyak kesturi yang baunya dinikmati oleh orang lain dan ia sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, maka sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan terhormat dan sangat penting, maka hendaklah ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya itu.[4]
Penghormatan terhadap guru dapat dilihat dari jasanya yang demikian besar, dalam mempersiapkan kehidupan bangsa dimasa akan dating. Suatu bangsa akan menjadi baik apabila sumberdaya yang memegang kekuasaan itu berkualitas tinggi dan berkualitas tinggi ini tidak lepas dari peran guru. Guru sebagai pemberi ilmu pengetahuan, guru sebagai Pembina akhlak mulia, guru pemberi petunjuk kepada peserta didik tentang hidup yang baik adalah merupakan jasa yang tidak bisa diukur dengan materi, Dengan demikian penghormatan yang tinggi pada guru adalah sesuatu yang logis dan secara moral dan social sudah selayaknya dilakukan. Namun demikian, tidak berarti seorang guru dapat semaunya memperlakukan peserta didiknya. Islam meletakkan berbagai ketentuan/kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru, baik secara pedagogis maupun personal.

B.     Sifat-sifat seorang guru
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa dalam ajaran islam, guru atau pendidik mendapat penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi. Dalam menjalankan tugasnya sebagai guru atau pendidik, seorang guru disamping memiliki ilmu pengetahuan juga harus memiliki sifat-sifat tertentu yang dengan sifat-sifat ini diharapkan dapat diberikan kepada peserta didik. Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi secara filosofis menyebutkan tujuh sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru: (1) memiliki sifat zuhud (2) memiliki jiwa yang bersih dari sifat tercela (3) seorang guru harus ikhlas (4) seorang guru harus memilikisifat pemaaf (5) harus dapat menempatkan dirinya sebagai bapak/ibu (6) mengetahui bakat, tabi’at dan watak peserta didik (7) menguasai bidang studi yang diajarkannya.
Bila mencontoh kepada Nabi Muhammad sebagai pendidik, nabi memiliki sifat-sifat sebagai berikut:[5] (1) Memiliki sifat kasih sayang. Rasulullah telah mencontohkan ketika beliau didatangi oleh malaikat untuk menghancurkan suku tsaqif, tahaif yang telah menghina dan menganiaya beliau, tapi malah beliau mendo’akan mereka.  (2)memiliki sifat sabar, rasulullah bersabar atas penganiayaan mereka. (3)memiliki kecerdasan, kecerdasan beliau dalam mendidik terlihat ketika beliau menggunakan stategi pendidikan. (4)memiliki sifat tawadhu’, ketika beliau bertemu dengan anak-anak, beliaulah yang pertama mengucapkan salam kepadanya. (5) Bijaksana (6)Pemberi maaf, beliau memaafkan seorang Yahudi yang telah menyihir beliau dan juga memaafkan Ghaurats yang berniat membunuh beliau(7)Kepribadian yang kuat, karena kepribadian yang kuat beliau mampu menanamkan keyakinan dalam hati musuh-musuhnya  (8) yakin terhadap tugas pendidikan, penjelasan tentang ini tidak perlu dijelaskan lagi, karena Allah SWT telah mencetak rasulullah untuk menjadi orang yang memiliki keyakinan yang kuat termasuk tugas sebagai pendidik umat.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik mencakup kompetensi Pedagogik, kompetensi Profesional, social dan kompetensi personal. Semua kompetensi ini tidak dapat tidak harus diupayakan oleh guru untuk menguasainya, agar peserta dapait mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan.baik dari segi transfer of knowledge maupun internalisasi nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.  Dalam bidang pedagogik Islampun memberikan pandangan-pandang yang cukup penting ditelaah oleh pendidik Muslim, baik dari segi ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits nabi. Berikut ini dijelaskan beberapa pendekatan dan Metode pendidikan dari perspektif Islam.

C.    Asas-asas metode Pembelajaran

Berdasarkan hakikat pendidikan Islam, Ada beberapa asas atau prinsip dalam pendekatan dan  metode[6] Asas-asas pelaksanaan  metode pendidikan Islam mencakup (1) Asas Motivasi, artinya Pendidik harus berusaha membangkitkan minat peserta didik sehingga seluruh perhatian mereka tertuju dan terpusat pada bahan pelajaran yang sedang disajikan.(2) Asas Aktivitas,artinya dalam proses belajar mengajar peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengambil bagian yang aktif, baik rohani maupun jasmani. (3) Asas Apersepsi,artinya  pendidik harus menghubungkan bahan yang akan dipelajari dengan apa yang telah diketahui peserta didik. (4) Asas Peragaan,artinya pendidik memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan mewujudkan bahan-bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk aslinya maupun tiruan. (5) Asas Korelasi, artinya proses belajar mengajar adalah menyeluruh, mencakup berbagai dimensi yang kompleks yang saling berhubungan. Pendidik hendaknya memandang peserta didik sebagai sejumlah daya-daya yang dinamis yang senantiasa berinteraksi dengan dunia sekitar untuk mencapai tujuan. (6) Asas Konsentrasi, asas yang memfokuskan pada suatu pokok masalah tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran, jadi dengan asas ini pendidik mengupayakan memberikan masalah yang menarik kepada peserta didik. (7) Asas Individualisasi, yaitu asas yang memperhatikan perbedaan-perbedaan individu, baik pembawaan dan lingkungan yang meliputi seluruh pribadi peserta didik. (8) Asas sosialisasi, yaitu asas yang memperhatikan penciptaan suasan social yang dapat membangkitkan semangat kerja sama antara peserta didik dan pendidik atau sesame peserta didik dan masyarakat sekitarnya. (9) Asas Evaluasi, yaitu asas yang memperhatikan hasil dari penilaian  terhadap kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik sebagai feedback pendidik dalam memperbaiki cara mengajar. (10) Asas Kebebasan, asas ini memberikan keleluasaan keinginan dan tindakan bagi peserta didik dengan dibatasi  atas kebebasan yang mengacau pada hal-hal positif. (11) Asas Linkungan, asas yang berpijak pada pengaruh lingkungan akibat interaksi dengan lingkungan (12) Asas Globalisasi, yaitu asas sebagai akibat psikologi totalitas (13) Asas Pusat minat,yaitu asas yang memperhatikan kecenderungan jiwa yang tetap e jurusan suatu hal yang berharga bagi seseorang. Sesuatu berharga apabila sesui dengan kebutuhan (14)  Asas Keteladanan, peserta didik memiliki kecenderungan belajar lewat peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang sekitarnya.  dan (15) Asas Pembiasaan, yaitu asas yang yang memperhatikan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh peserta didik. Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan peserta didik


D.    Pendekataan Pembelajaran dalam Tarbiyah Qur’ani

            Di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat atau contoh-contoh yang dapat digunakan sebagai acuan atau alternatif dalam memilih pendekatan dalam pembelajaran. Di antara pendekatan-pendekan tersebut adalah :

1. Pendekatan Ma’rifi

Pendekatan ma’rifi merupakan pendekatan yang cenderung menggunakan aspek nalar ( kognitive). Hal-hal yang berkaitan dengan pendekatan ma’rifi ini di dalam al-Quran terdapat ayat ayat yang seringkali diikuti oleh redaksi kata yang menggunakan akar kata aql(ratio; akal) dan juga menggunakan kata tafakkur(thinking, cogitation; renungan)yang berakar dari kata fikr (fikrah,nalar) . Dua kata tersebut terdapat perbedaan dalam penggunaannya di dalam al-Qur’an. Al-Ashfahani menjelaskan bahwa aql adalah suatu potensi yang dipersiapkan untuk menerima pengetahuan dan untuk mengetahui suatu pengetahuan yang diperoleh seseorang maka digunakanlah potensi tersebut . Contoh ayat yang menggunakan redaksi kata aql adalah S.al-Maidah:58 :

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُون)

“ Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.”

2. Pendekatan Istiqra’i (induksi)

Pendekatan Istiqra’i adalah pendekatan yang dilakukan dengan meenganalisis secara ilmiah, dimulai dari hal-hal atau peristiwa yang khusus untuk menentukan hukum yang bersifat umum. Dalam hal ini al-Qur’an banyak memberikan contoh terhadap fakta-fakta yang dikumpulkan pada rangkaian ayat guna mengambil kesimpulan. Salah satu diantara firman Allah Swt. yang dimaksud adalah:


أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ(17)وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ(18)وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ(19)وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ(20)فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, (88:17)Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? (88:18)Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? (88:19)Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (88:20)Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (88:21

3.  Pendekatan Istidlali(deduksi)
Pendekatan Istidlali adalah pendekatan yang dilakukan dengan meenganalisis secara ilmiah, dimulai dari hal-hal atau peristiwa yang bersifat umum kepada hal-hal yang bersifat khusus, atau kebalikan dari pendekatan istiqra’i. Pendekatan istidlali ini dapat juga di sebut pendekatan istinbathi. Contoh pendekatan Istidlali seperti dalam al-Qur’an S. al-Baqarah: 21-22 :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(21)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ(22)
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (2:21)Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (2:22)”

4. Pendekatan Wijdaniy (emosi)
Pendekatan Wijdaniy adalah pendekatan yang dilakukan untuk menggugah daya rasa atau emosi peserta didik agar mampu meyakini, memahami dan menghayati materi yang disampaikan. Pendekatan ini seringkali digunakan agar mampu meyakini, memahami dan menghayati agamanya. Di dalam al-Qur’an pada surat al-Anfaal, 2 :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(2)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (8:2)”
 
5. Pendekatan Ifrady (individual)
Pendekatan ifrady adalah pendekatan yang dilakukan untuk memberikan perhatian kepada seseorang ( peserta didik ) dengan memperhatikan masing-masing karakter yang ada pada mereka. Mereka berprilaku dalam belajar,mengemukakan pendapat,berpakaian, daya serap, kecerdasan dan sebagainya memiliki karakter yang berbeda-beda. Di dalam al-Qu’an S. al-Lail: 3-4, dan S. al-Isra’:21
وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى(3)إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى(4)
Dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. (92:4)
6. Pendekatan Ijtima’i ( kelompok )
Manusia adalah makhluk sosial, karena manusia tidak dapat hidup sendiri, terpisah dari manusia-manusia yang lain. Manusia senantiasa hidup dalam kelompok-kelompok kecil, seperti kaluarga atau kelompok yang lebih luas lagi yaitu masyarakat.Pendekatan ijtima’i ini sangat efektif dalam membentuk sifat kebersamaan siswa dalam lingkungannya, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Pola pendekatan ini ditekankan pada aspek tingkah laku di mana guru hendaklah dapat menanamkan rasa kebersamaan, dan siswa dapat menyesuaikan diri, baik dalam individu maupun sosialnya.

E.     Beberapa Metode Pendidikan  Dalam Islam

Bila kita mencontoh Nabi Muhammad SAW dalam mendidik umatnya,  maka dapat kita simpulkan beberapa teknik yang beliau gunakan dalam mendidik:[7] pertama, mengkritisi diri sendiri,  Rasulullah berfirman: “ Evaluasilah diri kalian sebelum kalian dimintai pertanggungjawaban (oleh Allah)”. kedua,teknik pengalihan, yaitu usaha seorang pendidik mengalihkan peserta didik dari sifat tercela menjadi sifat terpuji. Ada dua laki-laki saling memaki di sisi Nabi Muhammad SAW, salah seorang di antara mereka marah, dan kemarahannya memuncak hingga wajahnya tegang dan berubah. Rasulullah bersabda:  ssungguhnya saya benar-benar mengetahui kata-kata, yang seandainya dinyatakan, pasti akan menghilangkan kemarahan yang dihadapinya” Laki-laki itu kemudian menghampiri rasulullah, seraya nabi bersabda: Berlindunglah kepada Allah dari Syetan”
Ketiga,Teknik pengulangan, Nabi bersabda: “Wahai manusia, taubatlah kalian kepada Allah, sebab saya sendiri sesungguhnya senantiasa bertaubat kepadaNya dalam sehari sebanyak seratus kali” keempat,Bicara dengan perlahan, Aisyah menceritakan: Rasulullah tidak pernah berkata-kata seperti kata-kata kalian ini, tetapi, beliau berbicara dengan ungkapan yang antara satu dengan yang lainnya mempunyai jeda, sehingga bisa dihafalkan oleh orang yang duduk  mendengarkannya. kelima,Menggunakan skema, Abdullsh Mas’ud meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW telah membuat garis persegi empat, dan di engahnya beliau membuat garis lurus yang keluar dari sana, kemudian membuat garis-garis kecil kea rah garis tengah dari sebelah sampingnya. Kemudian beliau bersabda:Ínilah manusia, ini ajalnya yang mengelilinginya, atau benar-benar telah mengelilinginya. Yang berada di luar itu adalah harapan (cita-citanya). Dan garis-garis kecil ini adalah tujuan-tujuannya. Jika ia menyalahi ini, maka ia akan memakan ini, dan jika ia menyalahi ini ia akan memakan ini.
 keenam, Menggunakan alat bantu gerakan, Rasulullah bersabda: sesungguhnya orang mukmin dengan mukmin lainnya, adalah bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya”  Beliau kemudian jari-jemarinya satu dengan yang lain, kemudian menariknya. ketujuh,Petunjuk praktis, Ketika Rasulullah SAW ingin mengajarkan Sholat kepada kaum muslim, beliau naik ke tempat yang tinggi sehingga dapat dilihat oleh semua orang, lalu melaksanakan sholat di depan mereka, dimana mereka bisa menyaksikannya langsung. Beliau kemudian bersabda: “Dan sholatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku sedang sholat” bahakan Aisyah menemukan ungkapan yang representativf ketika menjelaskan akhlak Rasulullah, selain : Akhlaknya adalah Al-Qur’an”. kedelapan, Dialog, Rasulullah bertanya kepada para sahabat beliau: ”Apakah kalian mengetahui siapakah yang muflis itu? Mereka menjawab: muflis adalah siapa saja di antara kami yang tidak mempunyai dirham dan barang perniagaan. Beliau kemudian menjelaskan: “ sesungguhnya umatku yang muflis adalah siapa saja yang dating pada hari kiamat dengan pahala sholat dan zakat, namun dia juga dating dengan dosa mengupat ini, menuduh zina ini, memakan harta ini, menumpahkan darah ini, memukul ini, sehingga ini ditutup dari kebaikannya, dan ini dari kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis, sebelum lunas apa yang dibayarnya, maka dibayar dengan kesalahan mereka, sehingga akan dilemparkan kepadanya, dan akhirnya dia akan dilemparkan ke dalam neraka”
Kesembilan,Teknik Kisah, Rasulullah sering memberikan nasehat melalui kisah atau cerita. Antara lain, ketika beliau membenci orang yang sombong dalam kisah yang beliau tuturkan:”ketika seseorang berjalan dengan pakaiannya, yang dia kagumi sendiri, dengan rambutnya yang menjuntai, yang berlagak sombong dengan sisirannya, karena dia ditengelamkan oleh Allah (dalam kesombongannya) maka dia akan terus berlenggok-lenggok hngga hari kiamat.  kesepulu,Keteladanan, Allah telah membentuk Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam segala hal bagi kaum muslimin, Allah berfirman:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu.  kesebelas ,Persahabatan, Rasulullah mengingatkan betapa pentingnya persahabatan, dengan sabdanya: “Sesungguhnya perumpamaan berteman dengan orang yang shaleh dan berteman dengan orang yang jahat adalah seperti seseorang yang membawa minyak wangi dan seseorang yang meniup dapur tukang besi.
Kedua belas ,memperbaiki kesalahan tanpa menyebutkan namanya , Rasulullah menggunakan metode ini sebagaimana dituturkan oleh Aisyah: “Nabi SAW telah membuat sesuatu, kemudian beliau memberikan keringanan terhadapnya, tiba-tiba ada suatu kaum yang memandangnya hina, sehingga hal itu terdengar oleh Rasulullah SAW, lalu beliau membaca hamdalah dan memuji kepada Allah, kemudian bersabda:” mengapa ada suatu kaum yang memandang hina apa yang saya buat. Demi Allah, saya lebih mengetahui daripada mereka, tentang Allah, dan lebih takut kepadaNya di banding mereka”.  ketiga belas Berbicara dengan bijak, seperti sabda Rasulullah: “Ridha Tuhan terletak pada ridha orang tua, demikian juga kemurkaan Tuhan terletak pada kemurkaan orang tua. keempat belas.Memberi nasehat secara langsung. Kadang-kadang Rasulullah menaseharti secara langsung, seperti ketika Ibn ‘Abbas dibonceng di belakang nabi SAW, Beliau memberikan nasehat kepadanya: “Wahai bocah, saya ajarkan kepada mu suatu pesan: Jagalah Allah, maka dia pasti akan menjagamu, jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapatiNya mengarahkanmu; jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan, mintalah kepada Allah.”
Semua metode dan teknik yang dilakukan Rasulullah Tersebut, hanya beberapa contoh cara Rasulullah dalam mendidik umatnya sesuai situasi dan kondisi. Metode atau teknik di atas cenderung berubah, temporal dan situasional. Oleh sebab itu seorang pendidik dan atau pengajar harusnya memiliki kiat-kiat dalam melaksanakan tugas pendidikannya sesuai dengan masalah yang di hadapi.

F.     Kesimpulan
Kedudukan Pendidik atau guru dalam pandangan Islam sangat agung dan terhormat, kedudukan yang agung itu disebabkan pendidik atau guru memiliki tugas yang mulia, yaitu menyiapkan generasi muda untuk menjadi calon pemimpin di generasi mendatang. Di samping kedudukan dan tugas yang mulia itu guru dituntut lebih professional dalam mengemban tugasnya sebagai pendidik, pembimbing dan sekaligus sebagai pengajar. Oleh sebab itu guru harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugas yang akan diembannya, kompetensi tersebut adalah kompetensi personal-religius, kompetensi pedagogik-religius, kompetensi sosial-religius dan professional-religious, Sehingga dengan kompetensi tersebut guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai universal dalam kehidupannya, yaitu nilai-nilai Islam.
Kompetensi pedagogic-religius yang dimaksud di sini adalah bagaimana seorang guru, di samping memiliki keterampilan mengajar dengan baik berdasarkan bidang studinya, guru  juga harus menjadikan nilai-nilai Islam dalam menerapkan metode pembelajaran, dengan merujuk kepada sumber Ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadits, sehingga ruh dan hakikat pendidikan itu dapat tertanam ke dalam jiwa peserta didik sebgagaimana tuntunan Rasulullah SAW sebagai pendidik agung setelah pendidik maha agung, yaitu Allah SWT
Penulis menyadari tulisan ini hanyalah kutipan-kutipan atau ringkasan-ringkasan kecil dari sumber-sumber yang digunakan, saran dan masukan dari peserta seminar dan pembaca akan memperkaya makalah ini, sehingga bisa menjadi langkah awal untuk menjadikan Islam sebagai paradigm ilmu pendidikan yang sekarang terasa jauh dari nilai-nilai Islam. .amiiiin.


G.    Daftar Pustaka

Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (terjemahan Ibrahim Husein) Jakarta: Bulan Bintang, 1979
Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format pendidikan Non dikotomik, Yogyakarta: Gama Media, 2002
Abdul Mujib & Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2006
Imam Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-uddin, Beirut Dar-Al-Fikri: tanpa tahun.
Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dar pokok Pendidikan Islam, (Terjemahan Bustami A.Ghani dan Djohar Bahri), Jakarta: Bulan Bintang, 1974
 Hafidz Abdurrahman, Membangun kepribadian Pendidik Umat; Keteladanan Rasulullah SAW di Bidang Pendidikan, Jakarta: Wadi Press, 2005
 Imansjah Alipandie, Didaktik metode Pendidikan umum,(Surabaya: Usaha Nasional, 1984)
 Tim Depag RI, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: DPPTAI, 1981)
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkata Satuan Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2004)




[1] Istilah Pendekatan diartikan dengan sudut pandang guru tentang pembelajaran, apakah berpusat pada siswa atau berpusat pada guru, sedangkan  adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. smentara metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran, sedang  teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dan Model Pembelajaran merupakan  bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Lihat  Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkata Satuan Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2004)

[2] Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (terjemahan Ibrahim Husein) Jakarta: Bulan Bintang, 1979. H.25
[3] Imam Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-uddin, Beirut Dar-Al-Fikri: tanpa tahun. h. 25
[4] Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dar pokok Pendidikan Islam, (Terjemahan Bustami A.Ghani dan Djohar Bahri), Jakarta: Bulan Bintang, 1974. h, 130 
[5] Lihat penjelasan  Hafidz Abdurrahman, Membangun kepribadian Pendidika Umat; Keteladanan Rasulullah SAW di Bidang Pendidikan, Jakarta: Wadi Press, 2005, h. 23-34
[6]Imansjah Alipandie, Didaktik metode Pendidikan umum,(Surabaya: Usaha Nasional, 1984) h. 16-41, Tim Depag RI, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: DPPTAI, 1981)h. 97-105)

[7] penjelasan  Hafidz Abdurrahman, Membangun kepribadian Pendidika Umat;… h. 74-100

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar