Selasa, 19 Oktober 2010

Implementasi Strategi Contextual Teaching and Learning dalam Pendidikan Agama Islam

 
Oleh: Charles
Abstrak
Tujuan umum Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah menengah adalah untuk membentuk peserta didik yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas, kritis, kreatif, inovatif dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Tujuan ini tidak hanya berorientasi pemahaman dan Pengetahuan tentang ajaran Islam tapi pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan strategi yang inovatif, kreatif, dan dinamis oleh seorang pendidik Agama Islam. Salah satu strategi yang relevan denga tujuan di atas adalah strategi  Contextual Teaching and Learning. Cara menerapkannya adalah dengan menetapkan terlebih dahulu Standar Kompetensi dan kompetensi dasar Pendidikan Agama Islam, kemudian disesuaikan dengan karakteristik Pembelajaran Contextual Teaching and Learning.bila SK atau KD itu sesuai den Karakteristik CTL maka dapat diterapkan psds setiap pembelajaran dengan menyesuaikan waktu, sarana prasarana dan kemampuan siswa.

Key words: Implementasi, Contextual Teaching and Learning, Pendidikan Agama Islam


A.    Pendahuluan
Realitas Pendidikan Islam saat ini bisa dibilang telah mengalami masa intellectual deadlock. Diantara indikasinya adalah; pertama, minimnya upaya pembaharuan, dan kalau toh ada kalah cepat dengan perubahan sosial, politik dan kemajuan iptek. Kedua, praktek pendidikan Islam sejauh ini masih memelihara warisan yang lama dan tidak banyak melakukan pemikiran kreatif, inovatif dan kritis terhadap isu-isu aktual. Ketiga, model pembelajaran pendidikan Islam terlalu menekankan pada pendekatan intelektualisme-verbalistik dan menegasikan pentingnya interaksi edukatif dan komunikasi humanistik antara guru-murid. Keempat, orientasi pendidikan Islam menitikberatkan pada pembentukan ‘abd atau hamba Allah dan tidak seimbang dengan pencapaian karakter manusia muslim sebagai khalifah fi al-ardl.[1]
  Pendidikan dalam masyarakat modern  atau masyarakat yang sedang bergerak ke arah modern (modernizing) pada dasarnya berfungsi untuk memberikan kaitan antara anak didik dan lingkungan sosio-kulturalnya yang terus berubah. Fungsi pokok pendidikan tersebut terdiri dari tiga bagian: sosialisasi, penyekolahan (schoolin), dan pendidikan (education). Sebagai lembaga sosialisasi pendidikan adalah wahana bagi integrasi anak didik ke dalamkelompok atau nasional yang dominan. Adapun penyekolaan mempersiapkan mereka menduduki posis social-ekonomi. Sedangkan fungsi pendidikan untuk menciptakan kelompok elite yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar bagi kelanjutan  program modernisasi
Pendidikan Keagaman (Islam) sebagaimana menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan adalah untuk mempersiapkan peserta didik dalam penguasaan pengetahuan tentang ajarana agama dan atau ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. Pendidikan Agama bertujuan untuk membentuk peserta didik yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya adan atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas, kritis, kreatif, inovatif dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia
            Tujuan Pendidikan keagamaan (Islam)  ideal telah  dijabarkan dalam   tujuan Pendidikan agama Islam secara lebih spesifik dalam Keputusan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia no. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi Lulusan satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar kompetensi mata pelajaran pendidikan agama islam sekolah  menengah atas (SMA)/ madrasah aliyah (MA): (1)  Memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan fungsi manusia sebagai khalifah, demokrasi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) Peningkatkan keimanan kepada Allah sampai Qadha dan Qadar melalui pemahaman terhadap sifat dan Asmaul Husna, (3) Berperilaku terpuji seperti hasnuzzhan, taubat dan raja dan meninggalkan perilaku tercela seperti isyrof, tabzir dan fitnah, (4) Memahami sumber hukum Islam dan hukum taklifi serta menjelaskan hukum muamalah dan hukum keluarga dalam Islam, dan (5) Memahami sejarah Nabi Muhammad pada periode Mekkah dan periode Madinah serta perkembangan Islam di Indonsia dan di dunia
Diperlukan Pemikiran kreatif, inovatif dan kritis  untuk mencapai Tujuan Tersebut di atas. Guru dan atau pendidik sebagai researcher dan developer  Proses Pembelajaran  perlu melakukan terobosan dalam pengembangan kurikulum dalam aspek Orientasi Pendidikan dan Model pembelajaran yang sesuai dengan   Tujuan Pendidikan Islam tidak terlepas dari nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasikan idealitas islami. Sedangkan idealitas islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati. Ketaatan kepada kekuasaan Allah yang mutlak itu mengandung makna penyerahan diri secara total kepadanya. Bila manusia telah bersikap menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah berarti telah berada di dalam dimensi kehidupan menyejahterakan di dunia dan membahagiakan di akhirat.
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan, dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya   nilai-nilai islami yang bersumber dari kitab suci Al-Qur’an an Hadits. Oleh sebab itu pendidikan Islam bertugas di samping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan. Hal ini berarti bahwa pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik  anak didik agar memiliki “kedewasaan dan kematangan” dalam beriman, dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir swkaligus pengamal ajaran Islam. Abu A’la al-Maududi salah seorang cendikiawan Muslim menggambarkan tentang seorang yang intelektualitas berkepribadian muslim bersikap: “…berbeda dengan seorang cendikiawan yang kafir, seorang cendikiawan muslim menggunakan ilmu pengetahuaannya dan kecerdasannya ntuk mengenal tuhannya, memantapkan keimanan kepadan tuhannya, dan tanpa ada paksaan ia memilih jalan berbakti kepadanya…”[2]
Komperensi internasional pertama tentang pendidikan Islam di Makkah pada 1977 merrumuskan tujuan pendidikan Islam untuk mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional, perasaan dan jiwa karena itu pendidikan harus mencakup pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya; spiritual intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah bahasa, baik secara individual maupun kolektif dan mendorong semua aspek ini  kea rah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan Muslim terletak pada perwujudan kedudukan yang sempurna kepada Allah baik secara pribadi, komunitas maupun seluruh umat manusia.[3]
Tujuan pendidikan  sebagaimana di sebut di atas harus dicapai dengan baik oleh pendidik dengan berbagai strategi yang relevan. Beberapa strategi penajaran yang diterapkan guru di sekolah memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai kebutuhan siswa dan tujuan yang diharapkan. Namun ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan salah satu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Atas dasar pemikiran di atas jelas bahwa pembelajara Agama Islam membutuhkan strategi yang relevan dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran PAI di sekolah-sekolah/Madrasah-madrasah. Salah satu strategi itu adalah Contextual Teaching and Learning (CTL). Pendekatan atau strategi ini relevan dengan Pendidikan Agama Islam karena; Pertama,  Pengetahuan agama yang dimiliki oleh siswa tidak akan bermakna bila materi pelajaran itu tidak tidak ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa. Kedua, Pembelajaran Agama selama ini masih sekedar mengumpulkan fakta-fakta yang lepas-lepas tidak merupakan organisasi dari semua pengetahuan yang dialami. Ketiga, pembelajaran PAI seharusnya sudah di arahkan pada pemecahan masalah. CTL adalah konsep pembelajaran bagaimana anak menyelesaikan maslah yang di hadapi. Keempat Pembelajaran PAI seharusnya proses menangkap pengetahuan dari kenyataan, sehinnga pengetahuan itu memiliki  makna dalam kehidupan siswa.   Persoalannya adalah bagaimana mengimplementasikan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran PAI?
B.     Asas-asas Strategi Pendidikan Islam
Pendidikan Islam diartikan sebagai  proses transinternalisasi pengetahuan dan nilai Islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan pengasuhan dan pengembangan potensinya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia da di akhirat.[4]  Pengertian ini mengandung lima unsur pokok penddikan Islam, pertama,Proses transinternalisasi.  Kedua pengetahuan dan nilai Islam, ketiga,peserta didik sebagai subjek dan objek.  Keempat melalui upaya  pengajaran, pembiasaan, bimbingan dan pengasuhan, pengawasan dan pengembangan potensi, kelima, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat
            Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar "transper of knowledge" ataupun "transper of training", ....tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi “keimanan” dan “kesalehan”, yaitu suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan .Dengan demikian, dapat dikatakan pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam. Maka sosok pendidikan Islam dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang membawa manusia kearah kebahagian dunia dan akhirat melalui ilmu dan ibadah. Karena pendidikan Islam membawa manusia untuk kebahagian dunia dan akhirat, maka yang harus diperhatikan adalah "nilai-nilai Islam tentang manusia; hakekat dan sifat-sifatnya, misi dan tujuan hidupnya di dunia ini dan akhirat nanti, hak dan kewajibannya sebagai individu dan anggota masyarakat. Semua ini dapat kita jumpai dalam al-Qur'an dan Hadits  
Berdasarkan hakikat pendidikan Islam di atas, Menurut Tim Depag [5] Asas-asas pelaksanaan strategi atau metode pendidikan Islam mencakup (1) Asas Motivasi, artinya Pendidik harus berusaha membangkitkan minat peserta didik sehingga seluruh perhatian mereka tertuju dan terpusat pada bahan pelajaran yang sedang disajikan.(2) Asas Aktivitas,artinya dalam proses belajar mengajar peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengambil bagian yang aktif, baik rohani maupun jasmani. (3) Asas Apersepsi,artinya  pendidik harus menghubungkan bahan yang akan dipelajari dengan apa yang telah diketahui peserta didik. (4) Asas Peragaan,artinya pendidik memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan mewujudkan bahan-bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk aslinya maupun tiruan. (5) Asas Korelasi, artinya proses belajar mengajar adalah menyeluruh, mencakup berbagai dimensi yang kompleks yang saling berhubungan. Pendidik hendaknya memandang peserta didik sebagai sejumlah daya-daya yang dinamis yang senantiasa berinteraksi dengan dunia sekitar untuk mencapai tujuan. (6) Asas Konsentrasi, asas yang memfokuskan pada suatu pokok masalah tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran, jadi dengan asas ini pendidik mengupayakan memberikan masalah yang menarik kepada peserta didik. (7) Asas Individualisasi, yaitu asas yang memperhatikan perbedaan-perbedaan individu, baik pembawaan dan lingkungan yang meliputi seluruh pribadi peserta didik. (8) Asas sosialisasi, yaitu asas yang memperhatikan penciptaan suasan social yang dapat membangkitkan semangat kerja sama antara peserta didik dan pendidik atau sesame peserta didik dan masyarakat sekitarnya. (9) Asas Evaluasi, yaitu asas yang memperhatikan hasil dari penilaian  terhadap kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik sebagai feedback pendidik dalam memperbaiki cara mengajar. (10) Asas Kebebasan, asas ini memberikan keleluasaan keinginan dan tindakan bagi peserta didik dengan dibatasi  atas kebebasan yang mengacau pada hal-hal positif. (11) Asas Linkungan, asas yang berpijak pada pengaruh lingkungan akibat interaksi dengan lingkungan (12) Asas Globalisasi, yaitu asas sebagai akibat psikologi totalitas (13) Asas Pusat minat,yaitu asas yang memperhatikan kecenderungan jiwa yang tetap e jurusan suatu hal yang berharga bagi seseorang. Sesuatu berharga apabila sesui dengan kebutuhan (14)  Asas Keteladanan, peserta didik memiliki kecenderungan belajar lewat peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang sekitarnya.  dan (15) Asas Pembiasaan, yaitu asas yang yang memperhatikan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh peserta didik. Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan peserta didik
Masih banyak asas dalam dalam penerapan berbagai strategi pembelajaran, pembahasan ini tidak menjadi pokok dalam tulisan ini, namun memiliki peran yang penting dalam menerapkan strategi pembelajaran, termasuk di dalamnya strategi CTL. Beberapa asas di atas merupakan pandanga-pandangan secara umum dalam penerapan strategi pendidikan Islam termasuk dalam Contextual Teaching and Learning sehingga tujuan pendidikan Islam tercapai dengan baik
C.    Konsep Dasar  Contextual Teaching and Ledaarning
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi Pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata  sehinggamendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka .[6] Dari konsep di atas ada tiga hal yang harus dipahami; pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Kedua, CTL mendorong siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata . Hal ini sangat penting,sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu bermakna secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa  sehingga tidak akan mudah dilupakan. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya bukan hanya mengharapkan siswa memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk dalam otak dan kemudian dilupakan, akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
    Sebagai sebuah pendekatan pembelajaran CTL memiliki 7 asas yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekata CTL. Asas ini sering juga disebut dengan Komponen pembelajaran[7] yang meliputi: (1) Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.(2) Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas. (3) Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan. (4) Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat. (5) Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik. (6) Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya. (7) Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.
D.    Penerapan CTL dalam pembelajaran
Dalam Penerapannya CTL adalah sebuah Sistem yang menyeluruh yang terdiri dari bagian-bagian saling berhubungan, jika bagian-bagian ini terjalin dengan baik maka akan menghasilkan pengaruh yang lebih baik dan siswa akan mampu membuat hubungan y ang menghasilkan makna. Sistem CTL  mencakup delapan komponen; (1)  membuat kaitan-kaitan yang bermakna,(2) Melakukan pekerjaan yang berarti, (3) Melakukan Pembelajaran yang diatur sendiri,(4) bekerjasama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu tumbuh dan berkembang, (7) mencaai standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian yang autentik.[8]
Sehubungan dengan sitem di atas maka pembelajaran diarahkan pada pencapaian kompetensi yang sesuai dengan Sistem CTL sebagai berikut:[9]
Pertama,  Siswa akan   membangun keterkaitan antara seolah dan konteks kehidupan nyata seperti bisnis dan lembaga masyarakat. Berbagai cara efektif untuk mengaitkan pembelajaran dengan konteks sehari-hari siswa, diantaranya adalah (1) di kelas mengaitkan materi dengan konteks siswa, (2) Memasukkan materi dari bidang lain dalam kelas, (3) mata pelajaran yang tetap terpisah, tetapi mencakup topic-topik yang saling berhubungan (4) mata pelajaran gabungan yang menyatukan dua atau lebih disiplin, (5) menggabungkan sekolah dan pekerjaan (6) model kliah kerja nyata atau penerapan terhadap hal-hal yang dipelajari di sekolah ke masyarakat. Contoh penerapnnya, para guru mendorong siswa untuk membaca, menulis dan berpikir secara kritis pada persoalan-persoalan  controversial di lingkungan atau masyarakat mereka.
Kedua, Para siswa akan melakukan pekerjaan yang berarti; pekerjaan yang memiliki tujuan, berguna untuk orang lain, yang melibatkan proses menentukan pilihan dan menghasilkan produk nyata atau tidak nyata.
Ketiga, Siswa akan bekerja sama; Membantu siswa bekerja dengan efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bahwa apa yang mereka lakkan mempengaruhi orang lain; membantu mereka berkomunikasi dengan orang lain. Berbagai strategi untuk kerjasama yang dilakukan dalam kelas di antarannya adalah; (1)tetap focus pada tugas kelompok,  (2)bekerja secara kooperatif dengan para anggota kelompok lainnya, (3) mencapai keputusan kelompok untuk setiap masalah, (4) meyakinkan bahwa setiap orang dalam kelompok  memahami  setiap solusi yang ada sebelum melangkah lebih jauh, (5) mendengarka orang lain dengan seksama dan mencoba memanfaatkan ide-ide mereka, (6) berbagi kepemimpinan dalam kelompok (7) memastikan setiap orang  ikut berpartisipasi  dan tidak ada salah seorang yang mendominasi kelompok (8) bergiliran mencatat hasil-hasil yang telah dicapai kelompok
Keempat, Para siswa akan menjadi siswa yang dapat mengatur diri sendiri dan aktif sehingga dapat mengembangkan minat individu, mampu bekerja sendiri atau dalam kelompok dan belajar lewat praktek. Langkah yang diambil siswa untuk menguasai kemampuan mengatur sendiri adalah dengan; mengambil tindakan, mengajukan pertanyaan, membuat pilihan, membangun kesadaran diri, kerjasama.
Kelima, Para siswa akan menggunakan pikiran ingkat tinggi ang kreatif dan kritis;  menganalisis, melakukan sintesis,memecahkan masalah, membuat keputusan, menggunakan logika dan bukti.Ada delapan langkah yang dilakukan oleh pemikir kritis; Pertama, Apa isu,  masalah, keputusan atau kegiatan yang sedang dpertimbangkan? Kedua,apa sudut pandangnya? Ketiga,apa alas an yang diajukan? keempat,Asumsi-asumsi apa saja yang dibuat? kelima,Apakah bahasanya jelas, keenam,apakan alasan didasarkan pada bukti-bukti yang meyakinkan. Ketujuh,Kesimpulan apa yang ditawarkan? kedelapan,apakah implikasi dari kesimpulan-kesimpulan yang sudah diambil?
 Keenam, Para siswa akan mengembangkan setiap individu; tahu, member perhatian dan meletakkan harapan yang tinggi untuk setiap anak. Memotivasi dan mendorong setiap siswa. Siswa tidak dapat sukses tanpa dukungan dari orang sewasa, para siswa menghormati teman sebaya dan orang dewasa. Cara yang perlu dilakukan dalam membangun hubungan dengan siswa agar siswa dapat mengembangkan kemampuannya adalah; pertama, mengenal kehidupan rumah, ketakutan siswa dan kemampuan setiap siswa.seperti meminta setiap anak untuk enyisihkan beberapa menit setiap hari Jum’at menulis sebuah catatan singkat yang mengevaluasi perilaku mingguan mereka sebagai sesuatu yang perlu perbaikan. kedua, melakukan komunikasi dengan keluarga para siswa. Seperti mengundang ayah kerabat siswa untuk mendiskusikan persoalan siswa.
Ketujuh, Para siswa akan mengenali dan mencapai standar tinggi; mengidentifikasi tujuan yang jelas dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Menunjukkan kepada mereka cara untuk mencapai keberhasilan. Dalam system CTL guru dituntut untuk merumuskan tujuan-tujuan yang tidak hanya berat, tetapi juga tujuan yang menggabungkan pengetahuan dan tindakan dengan cara yang bermakna bagi para siswa. Beberap cara yang perlu dilakukan guru adalah: (1) Beritahukan pengetahuan yang akan dipelajari dari suatu mata pelajaran. )2)gunakan kata kerja aktif untuk menentukan dengan tepat apa yang harus dilakukan oleh para siswa setelah berhasil menguasai pengetahuan ini. (3)Jelaskan mengapa para siswa akan akan mendapatkan keuntungan setelah menelesaikan tugas tersebut. (4) Beritahu cara-cara apa saja yang bisa digunakan para siswa untuk menunjukkan bahwa mereka telah menguasai  pengetahuan dan keterampilan  yang diminta. (5) Beri tahu para siswa cara mendapatkan hasil terbaik dari tugas, kegiatan, penilaian atau mata pelajaran yang diberikan. (6)Bandingkan tujuan-tujuan anda dengan tujuan-tujuan yang terdapat pada standar eksternal.
E.      Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut:  (1) Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar. (2) Nyatakan tujuan umum pembelajarannya. (3) Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu (4) Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa, (5) Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.

F.     Pengembangan Strategi CTL dalam Pendidikan Agama Islam
Untuk lebih memahami  bagaimana mengaplikasikan CTL dalam proses Pembelajaran Agama Islam di sekolah Menengah di sajikan beberapa contoh penerapannya. Dalam contoh ini dipaparkan bagaimana guru menerapkan pola pembelajaran konvensional[10] dan dengan pola CTL. Hal ini dimaksudkan agar dapat dipahami perbedaan penerapan kedua pola pembelajaran tersebut. Misalnya Pada Kelas XI semester I pada jam tertentu guru akan membelajarkan anak tentang Mu’amalah dengan Standar Kompetensi: [11]“Memahami hukum Islam tentang Mu’amalah. Sedangkan Kompetensi Dasar yang diharapkan  (1) Menjelaskan azas-azas transaksi ekonomi dalam Islam, (2) Memberikan contoh transaksi ekonomi dalam Islam dan (3) Menerapkan transaksi ekonomi Islam dalam kehidupan sehari-hari. 
1.      Pola Pembelajaran Konvensional
Untuk Mencapai tujuan kompetensi tersebut di atas, mungkin guru menerapkan strategi Pembelajaran sebagai berikut: [12] (a) Siswa disuruh membaca buku tentang mu’amalah, (b) Guru menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan pokok-pokok materi pelajaran seperti yang terdapat dalam kompetensi dasar di atas, (c) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya manakala ada hal-hal yang kurang jelas (metode diskusi dan tanya jawab), (d) Guru mengulas pokok-pokok materi pelajaran yang telah disampaikan dilanjutkan dengan menyimpulkan, (e) Guru melakukan post-tes  evaluasi sebagai upaya untuk mengecek terhadap pemahaman siswa tentang materi pelajaran yang telah disampaikan dan (f) Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan sesuai dengan tema Mu’amalah.

2.      Pola Pembelajaran CTL
Untuk mencapai tujuan yang sama dengan menggunakan CTL guru melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti di bawah ini
a.    Pendahuluan:
1)      Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pembelajaran yang akan dipelajari
2)      Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL;
·         Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa;
·         Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi; misalnya kelompok 1 dan 2 melakuka observasi ke BANK Syari’ah dan kelompok 3 dan 4 melakukan observasi ke BANK KONVENSIONAL
·         Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbgai hal yang ditemukan oleh siswa
b.    Pada bagian Inti dibagi menjadi 2 bagia:
Di Lapangan; Siswa melakukan observasi ke BANK sesuia pembagian tugas kelompok, Sisa mencatat hal-hal yang mereka temukan di BANK sesuai dengan alat observasi yang mereka tentukan sebelumnya
Di Kelas ,Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai kelompoknya masing-masing, Siswa melaporkan hasil diskusi, Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain
a.    Bagian Penutup
1)        Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah transaksi ekonomi Islam sesuai indikator hasil belajar yang harus dicapai
2)        Guru menugaskan siswa utuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka dengan tema transaksi Ekonomi Islam
Dari gambaran pembelajaran di atas terlihat dengan jelas bagaimana perbedaan pembelajaran konvensional dengan pembelajaran CTL. Pada bagian pendahuluan guru lebih berperan sebagai pengarah dan fasilitator  dengan menjelaskan standar kompetensi pembelajaran dan kompetensi dasar serta indikator-indikator yang di gunakan dalam pembelajaran serta langkah-langkah pembelajaran berdasarkan konsep CTL. Kemudian pada bagian inti guru melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing dan fasilitator dengan membimbing siswa berdiskusi masalah pokok dalam pembelajaran Agama Islam. Guru tidak memulai pembelajaran dengan menjelaskan materi yang akan dipelajari dan tidak pula menyuruh siswa mendengarkan ceramah-ceramah guru yang sering membosankan siswa, tetapi meminta siswa menceritakan pengalaman masing-masing berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan. Dalam hal ini siswa dituntut merekonstruksikan pengetahuan-pengetahuan yang di dapat dilapangan kedalam sebuah konsep, kemudian guru hanya meluruskan konsep itu sesui materi yang dipelajari
G.    Kesimpulan
Strategi Pembelajaran CTL dapat diterapkan dalam mata pelajaran apapun, termasuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Untuk menerapkan strategi  itu perlu diktahui konsep dasar  CTL dan hubnungannya dengan tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Prinsip penerapannya adalah pendidik harus menghubungan materi pelajaran dengan pengetahuan siswa, dan pengetahuan itu tidak semata-mata diterima oleh siswa, tetapi siswa diberi keleluasaan menemukan materi pembelajaran sehinga siswa dapat merekonstruksi pengetahuan itu menjadi pengetahuan yang bermakna kemudian pendidik mendorong siswa menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupan nyata, sehingga pengetahuan bukan sekedar konsep-konsep yang terpisah dalam memori siswa yang mudah dilupakan dalam kehidupannya. Disinilah perlunya seorang pendidik Agama Islam menerapkan CTL dalam pembelajaran agar Pendidikan agama Islam tidak hanya memberikan materi sebanyak-banyaknya kepada siswa tetapi juga mendorong siswa untuk menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan nyata.
















Daftar Pustaka
Elaine B. Johnson, Contextual Teaching & Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar mengasyikkan dan Bermakna, terj. Ibnu setiawan, (Bandung: Mizan Learning Center (MLC), 2009)
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran:Berdasarkan Kurikulum Tingkat satan Pendidikan,
Abdul Mujidb & Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006)
PP No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan
Tim Depag RI, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: DPPTAI, 1981)
Ayumardi Azra dalam  Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002)
Abd. Rachman Assegaf, “Membangun Format Pendidikan Islam di Era Globalisasi”, dalamImam Machali dan Musthofa (Ed.), Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2004
Peraturan Menteri pendidikan nasional Republik Indonesia  Nomor   23  tahun 2006 tentang  Standar kompetensi lulusan  Untuk  satuan pendidikan dasar dan menengah
Peraturan  Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah



[1]Abd. Rachman Assegaf, “Membangun Format Pendidikan Islam di Era Globalisasi”, dalamImam Machali dan Musthofa (Ed.), Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2004), Cet. I, h. 8-9)

[2] Abu A’la al-Maududi dalam Muzayyim Arifin,, Ilmu Pendidikan Islam,  2003 h.111)
[3]  Lihat kutipan Ayumardi Azra dalam  Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002) cet. IV .h.57
[4] Abdul Mujidb & Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 27
[5]Tim Depag RI, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: DPPTAI, 1981)h. 97-105)

[6] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkata Satuan Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2004),h.253
[7] Wina Sanjaya,  Ibid.

[8] Elaine B. Johnson, Contextual Teaching And Learning; Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, Terj. Ibnu Setiawan, (Bandung: Mizan Learning Centre, 2009), h.67
[9]  Lihat Penjelasan lebih lengkap tentang Sitem CTL dalam, Elaine B. Johnson,  Ibid.              
[10] Kata konvensional   diartikan dengan menurut kebiasaan atau kelaziman. Ini mengandung arti bahwa guru sering menggunakan pola seperti ini dalam pembelajaran yang berbeda dengan Pola CTL
[11] Standar kompetensi di atas di ambil dai salah stu kompetensi Pendidikan Agama Islam di sekolah Menengah, lihat Permen Pendidikan Nasional RI  tentang standar kompetensi lulusan  untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah pada  Mata pelajara pendidikan Agama Islam  
[12] Contoh dengan mata pelajaran Ekonomi  dijelaskan  juga dalam Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar